Bab 8

Notifikasi dan Taruhan

Menghitung...

Layar ponselku mendadak menyala, memancarkan cahaya ilahi di tengah kamarku yang suram. Mataku yang tadinya setengah sadar langsung melotot lebar begitu melihat ikon notifikasi dari aplikasi mobile banking.

Ting!

Sumpah, denting singkat itu terdengar seribu kali lebih merdu daripada opening anime favoritku. Itu bukan sekadar bunyi aplikasi, itu adalah terompet malaikat penyelamat! Suara yang sukses menarikku keluar dari jurang masa kegelapan.

Uang bulanan dari Ibuku resmi mendarat.

Aku mengembuskan napas panjang hingga bahuku merosot lega. Artinya, besok pagi aku tidak perlu lagi nahan napas dan jalan jinjit, kayak siswa telat upacara setiap kali lewat kamar Ibu Kos. Besok, aku bisa berjalan melenggang dengan dada membusung, tidak perlu lagi mengendap-endap seperti pejabat yang ketahuan habis makan uang rakyat.

Tak lama berselang, muncul pesan WhatsApp dari kontak bernama ‘Ibu Negara’.

Uang untuk kebutuhan bulan ini udah Ibu transfer, ya. Dipakai sesuai keperluan aja, jangan boros. Jangan kebanyakan makan mi instan.

Aku membalas singkat, mengucapkan terima kasih sambil meyakinkan Ibu kalau uangnya sudah aman diterima.

Aku tersenyum tipis. Namun, senyum itu tidak bertahan lama. Sedetik kemudian, gelembung ‘typing…’ muncul dan sebuah pesan baru masuk.

Oh iya, jadi gimana? Udah kepikiran mau nerusin kuliah di mana? Atau mau langsung kerja?

Pertanyaan itu lagi.

Aku meletakkan ponsel ke dada, membiarkan pertanyaan itu mengambang di langit-langit kepalaku. Rencanaku setelah lulus SMA sebetulnya sederhana: langsung kerja. Bukan karena malas—tapi yah, malas juga sih—tapi lebih karena Ibu sudah terlalu lama banting tulang sendirian. Aku tidak mau jadi beban yang diperpanjang kontraknya empat tahun lagi.

Tak butuh waktu lama balon pesan itu bertambah lagi.

Nanti kalau udah dipikirin benar-benar, kabarin Ibu aja. Ibu bakal dukung apa pun pilihanmu.

Aku menatap layar itu lama, lalu meletakkan ponselku. Dadaku terasa sedikit sesak, tapi aku buru-buru mengusir perasaan itu. Malam ini, aku butuh pelarian.


Ping! Ping!

Rentetan notifikasi berisik dari grup Discord membuyarkan lamunanku.

“Info login!” “Woi Wakil Ketua! Buruan join!”

Aku buru-buru menarik napas dalam-dalam, lalu meraih headset. Malam ini, aku butuh push rank untuk melupakan kenyataan bahwa masa depanku masih abu-abu.

“Hadir, hadir,” ucapku saat bergabung ke voice channel (VC) party mabar kami.

Sambil menunggu matchmaking mencari lawan di Mobile Legends, obrolan di VC mengalir liar. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba topik pembicaraan bergeser ke arah kelulusan yang tinggal menghitung bulan.

“Gila ya, bentar lagi kita lulus. Lu pada mau ke mana abis ini?” tanya salah satu teman laknatku.

“Gue mah udah pasti disuruh nerusin bengkel bapak gue,” jawab si Anak Bengkel. “Otak gue mana nyampe mikirin rumus. Mending gue ngotak-ngatik karburator.”

“Sama cuy. Gue mau langsung nitip lamaran ke pabrik sepatu aja lah. Lumayan gaji UMR bisa buat top up,” timpal yang lain.

Satu per satu temanku menyebutkan rencana realistis mereka. Lingkaran pertemananku memang isinya makhluk-makhluk yang sangat sadar diri akan kapasitas otak mereka.

“Kalau lu gimana, Waketu?” tembak si Anak Bengkel tiba-tiba.

“Gue?” Aku terdiam. Bayangan wajah Ketua kembali melintas. “Gak tahu sih… tapi jujur, rencananya gue pengen kuliah.”

Hening sesaat di dalam VC. Lalu, tawa mereka pecah bersamaan.

“Buset! Kesambet apa lu, Waketu?!” ledek temanku.

“Nilai rapor kita dari kelas 10 itu merah merona, Waketu. Jalur Nilai? Tutup buat lu,” potong si Kang Roasting, datar.

“Ya kan masih ada Jalur Ujian,” belaku.

“Saingan lo anak bimbel se-Indonesia,” balas si Kang Roasting lagi. “Otak kita yang cuma bisa ngapalin nama hero itu mana kuat.”

“Terus kalau lu gagal, lu mau lewat Jalur Mandiri? Biaya pendaftarannya aja gak ngotak, apalagi uang gedungnya! Bisa abis ratusan juta, Bos! Emang lu mau bayar kuliah pake gold ML?”

Jleb.

Kata-kata itu menghantamku seperti godam. Realita kembali menamparku. Jalur Ujian adalah medan perang berdarah, dan Jalur Mandiri adalah area VIP bagi anak-anak berdompet tebal. Aku tidak punya otak jenius, dan aku jelas tidak punya duit.

Ting! Match Found!

“Udahlah! Bahas masa depannya entar aja pas kita udah resmi jadi pengangguran! Pencet masuk buruan!” teriakku, berusaha terdengar ceria untuk menutupi rasa sesak di dada.

Aku segera menekan tombol masuk. Berharap game ini bisa menghilangkan semua overthinking sialan ini.

Tapi aku salah.

Tiga puluh menit berlalu, dan permainanku hancur berantakan. Jari-jariku bergerak menekan layar, tapi pikiranku terus mengulang perkataan si Anak Bengkel tadi. Ratusan juta. Emang mau bayar pakai gold ML?

“Woi, Waketu! Lu ngapain diam aja?! Feed mulu dari tadi!” omel temanku kesal.

“Sabar woy, nge-lag… nge-lag,” bohongku.

“Alasan! Sini, kita war di Lord sekarang—ini penentuan!”

Aku mengarahkan hero-ku ke area pertarungan. Tanganku bersiap di skill ultimate.

DRRRTTT! DRRRTTT!

Layar game-ku mendadak tertutup sepenuhnya. Digantikan oleh layar hitam dengan foto profil dan tombol hijau berkedip-kedip khas panggilan WhatsApp.

“Woi anjing! Siapa sih nelpon pas lagi waaaaar—”

Umpatanku terhenti di ujung lidah. Mataku membelalak lebar melihat nama yang tertera di layar.

Ketua Kelas

Hah?!

Ini jam sepuluh malam! Untuk apa Bidadari Sekolah meneleponku malam-malam begini?!

“WAKETU! LU NGAPAIN DIAM AJA DI TENGAH?! ULTI WOY! MATI KAN LU!”

Suara teriakan teman-teman laknatku meledak bersahutan di dalam headset.

Bodo amat sama Lord! Bodo amat sama turet! Bodo amat sama kalian semua! Persetan dengan Mobile Legends, ini panggilan dari masa depan!

Dengan kecepatan cahaya, tanganku langsung menekan tombol Mute dan Deafen di Discord, memutus semua suara teriakan caci-maki teman-teman mabar-ku dalam sekejap.

Hening.

Aku menggeser tombol hijau ke atas. Menempelkan ponsel ke telinga.

“H-halo… Ketua?”

“Halo, Wakil Ketua.” Suara Ketua terdengar jelas, tenang, dan sedikit serak. “Jam sepuluh malam, kamu pasti lagi nge-game, ya?”

Sial. Tebakannya akurat banget.

“Aku? Enggak, aku lagi… simulasi strategi pertahanan, Ketua. Melatih otak,” jawabku asal, sambil mati-matian menatap layar HP-ku yang menampilkan layar game dengan tulisan DEFEAT karena ditinggal AFK.

“Simulasi apa yang bikin rank kamu anjlok malam ini?” potongnya datar. “Ah, Sekretaris baru saja mengirim screenshot di grup kelas. Katanya Wakil Ketua lagi lose streak malam ini.”

Aku melotot. Dasar Sekretaris pengkhianat! Padahal dia juga ngajak mabar tadi siang, tahu-tahu nge-cepu-in gue ke Ketua!

“Ya… i-itu, eee… jaringan lagi nge-lag, Ketua,” elakku.

“Alasan,” ucap Ketua singkat. Lalu, jeda sebentar—cuma sepersekian detik, tapi cukup terasa. “Oh iya, besok ada Remedial Matematika Bab 1, kan?”

Entah kenapa, nada suaranya barusan sedikit berbeda. Bukan lagi menyelidik, lebih seperti… menunggu jawabanku sungguhan.

“I-Iya?” Aku menghela napas panjang, membiarkan bahuku merosot lemas. Dan entah kenapa, di telepon gelap begini, jauh lebih mudah untuk jujur dibanding tatap muka. “Tapi jujur… aku udah belajar pakai catatan kamu dari sesi belajar bareng kemarin. Tapi pas ngerjain latihan soal, tetep aja gak ngerti. Otakku emang gak nyampe buat yang beginian, Ketua. Percuma aja. Nyerah.”

Aku sengaja mengatakannya dengan nada pasrah. Kata-kata Sekretaris di kafe tempo hari masih terngiang-ngiang di telingaku: “Emangnya otakmu nyampe? Mimpimu ketinggian, Mas!”

Huh. Mungkin dia benar.

Di seberang telepon, tidak ada suara apa-apa untuk beberapa detik. Cuma helaan napas pelan.

“Hei, Wakil Ketua…” Suaranya turun, lebih lembut dari biasanya. “Gimana kalo kita coba pendekatan lain.”

Pendekatan lain? Apa maksudnya ‘pendekatan’? Apa mungkin pendekatan hubunganku dengan Ketua? (Bercanda).

“Maksudnya?” tanyaku penasaran.

“Ayo kita bikin taruhan,” ucap Ketua. Nada bicaranya berubah, ada senyum jahil yang bisa kudengar dari suaranya—dan aku bersyukur mode itu kembali, karena mode sebelumnya tadi bikin dadaku aneh. “Kalau kamu bisa dapat nilai minimal 75 di remedial besok, aku kasih hadiah spesial.”

“75?!” suaraku naik satu oktaf. “Gede banget! Itu mah nilai terbaik seumur hidupku!”

“Gimana, menarik gak?”

Hmmm… mencurigakan. Aku bertanya-tanya apa motif Ketua melakukan hal ini. Tapi yah, kalau Ketua sih paling cuma mau anak muridnya ini gak dapet nilai jeblok setelah diajari ini dan itu di sesi belajar bareng kemarin.

Aku terdiam sebentar, menimbang. “Oke. Tapi hadiahnya apaan?”

Jujur, ini yang bikin aku penasaran setengah mati dari tadi. Apa mungkin aku bakal diajak kenc—

“Rahasia.”

Geh. Tuan Putri satu ini tidak membiarkanku berimajinasi sedikit pun.

“Kamu bakal tahu kalau kamu beneran dapat 75. Gimana?” lanjutnya, mencoba meyakinkanku yang masih mengharapkan sesuatu ini.

Apaan dah, bikin penasaran aja nih.

Oh iya, ngomong-ngomong soal ‘anak murid’, aku jadi kepikiran seseorang: Sekretaris.

“Eh, ngomong-ngomong,” tanyaku mengusut rasa penasaran. “Sekretaris juga kamu tawarin taruhan kayak gini nggak?”

Hening sejenak di seberang sana.

“Mungkin,” jawab Ketua santai, nada menggoda kembali seperti biasa. “Atau mungkin, cuma kamu yang butuh motivasi ekstra karena kamu paling malas.”

Sialan. Dia sengaja memancingku. Tapi aku tidak bisa menyembunyikan senyum tolol yang perlahan mengembang di wajahku.

“Oke, deal. Tapi kalau aku kalah, aman kan ya?” tantangku, mencoba terdengar percaya diri.

“Jadi budak piket kelas selama sebulan. Oh, dan satu lagi,” suaranya tegas, tanpa ampun—versi seorang jenderal yang membacakan hukuman, bukan lagi gadis yang tadi terdengar canggung. “Setiap pagi sebelum bel masuk berbunyi, kamu harus beliin aku susu kotak rasa stroberi di koperasi ujung lapangan. Sediakan di mejaku sebelum aku datang. Pakai uang jajanmu sendiri.”

Gawat. Dia serius. Ketua, kamu jahat… huhu.

Ini bukan sekadar taruhan biasa, ini adalah siksaan terstruktur! Kalau soal harga, susu kotak memang murah, paling cuma empat ribu-an. Tapi kalau tiap hari, boncos juga! Dan masalah lainnya… koperasi sekolah itu ada di ujung sekolahan! Jaraknya dari kelas kami rasanya seperti dari Bumi ke Bulan buat kaum rebahan sepertiku. Belum lagi aku harus datang jauh lebih pagi setiap hari untuk membelinya. Ini murni penyiksaan!

Aku menarik napas dalam-dalam.

Deal. Siapin hadiahnya, Ketua. Besok kamu yang rugi,” jawabku mantap.

“Nah gitu dong… Sekarang tutup game kamu. Buka buku paket Matematika Bab 1. Kalau masih ada yang bingung, kamu bisa buka lagi catatan dariku kemarin.” Sesaat, dia berhenti. ”…Selamat malam, Wakil Ketua.”

Ada jeda kecil sebelum dia bilang “selamat malam” itu. Mungkin cuma perasaanku lagi.

Tuuut… tuut… tuut…

Dia sudah memutus panggilannya.

Aku menatap layar ponsel yang sudah gelap.

Aneh. Seharusnya aku merasa tertekan karena ancaman budak piket dan beli susu tiap pagi. Tapi kenapa dadaku terasa hangat? Suaranya tadi… lembut, sebelum berubah lagi jadi menggoda, lalu tegas. Tiga wujud Ketua dalam satu telepon, dan aku menyukai ketiganya. Aku tiba-tiba merasa kesal karena panggilannya terlalu cepat diputus.

Gila, batinku menampar diri sendiri. Konsentrasi, Bro. Fokus ke angka 75. Fokus ke hadiah rahasia itu.

Aku menekan tombol Unmute dan Undeafen di Discord.

“Woi Waketu! Mau ke mana lu?! Lord udah mati! Kita kalah!” teriak si Anak Bengkel di ujung sana.

“Sorry, guys,” ucapku santai ke dalam mikrofon. “Aku leave dulu malam ini.”

“Hah?! Lu gila?! Kita nanggung nih! Mau ke mana lu?!”

“Ada misi yang lebih penting. Selamat tinggal kawanku,” jawabku seperti seorang prajurit yang akan berangkat ke medan perang.

Sebelum mereka bisa memakiku habis-habisan karena nge-ninja, aku langsung menutup aplikasi Discord dan mematikan layarnya.

Kamar kosku kembali sunyi. Hanya ada suara dengungan kipas angin dan detak jam dinding.

Aku menarik napas panjang, meraih pensil, dan membuka catatan Ketua yang sudah kubaca berkali-kali sejak sesi belajar bareng kemarin.

“Oke, Ketua,” gumamku pada tulisan rapi tangan Ketua di buku catatanku. “Tungguin aku dapat nilai 75. Dan… aku pasti dapat hadiah itu.”

Komentar