Bendahara dan Sampul Cokelat
Jujur saja, sesi belajar kelompok tadi adalah pengalaman terbaik sekaligus terburuk dalam sejarah hidupku.
Terbaik, karena ada Ketua yang mengajariku langsung dengan jarak yang sangat tidak aman bagi kesehatan jantung. Terburuk, karena ada makhluk bernama Sekretaris yang napasnya saja sudah cukup untuk menaikkan tekanan darahku. Kami berdua memang seperti air dan minyak—kalau disatukan pasti meledak.
Ketua bahkan sampai marah sungguhan. Padahal beliau sudah repot-repot meluangkan hari Sabtu sorenya yang berharga demi mengurus dua beban negara ini.
Maafkan hambamu ini, Ketua.
Sambil terus meratapi nasib dalam hati, aku menyusuri trotoar menuju kosan. Angin sore yang lumayan sejuk sedikit mendinginkan kepalaku yang sudah gosong karena rumus matematika.
Sayup-sayup, telingaku menangkap suara gemerincing dari arah depan. Klotak… klotak…
Di depanku, berjalan seorang gadis bertubuh mungil. Langkahnya kecil-kecil tapi temponya cepat.
Dari belakang, aku bisa melihat tas kanvasnya yang penuh dengan pin akrilik dan gantungan kunci berbagai macam karakter anime cowok yang saling bergesekan, menciptakan suara berisik.
Gadis itu mengenakan kardigan rajut warna krem yang ukurannya jelas kebesaran. Lengan kardigan itu bahkan menutupi separuh punggung tangannya yang sedang sibuk memegang sebuah buku tebal.
Meski kakinya terus melangkah memakai sepatu loafer hitam yang ujungnya sudah lecet, matanya sama sekali tidak lepas dari halaman buku. Kalau di depannya ada tiang listrik, aku yakin seratus persen dia akan berakhir dengan benjol di dahi.
Aku kenal sosok ceroboh ini.
Aku mempercepat langkah dan menyejajarkan posisiku di sampingnya.
“Woy, awas nabrak,” sapaku santai.
Gadis itu tersentak kaget. Langkahnya berhenti mendadak. Dia mendongak dari balik bukunya. Kacamata berbingkai bulat yang bertengger di hidungnya sedikit merosot.
Begitu matanya yang di balik lensa itu menangkap wajahku, ekspresinya langsung berubah. Dari yang awalnya terkejut, menjadi ekspresi datar—seperti orang yang baru sadar menginjak ranjau darat.
“Geehh… Wakil Ketua ternyata,” ucapnya dengan nada malas.
Kampret emang.
“Yo, Bendahara! Abis dari mana?” sapaku, mengabaikan wajah permusuhannya yang sudah jadi makanan sehari-hariku.
“Bukan urusanmu,” ketusnya.
“Eh, jahat banget sama temen masa kecil sendiri.”
“Bodo amat.” Dia menjulurkan lidah sebentar, membetulkan letak kacamata bulatnya, lalu kembali menunduk menatap bukunya.
Aku iseng melirik benda yang sedang dipegangnya erat-erat itu. Bentuknya setebal kamus, tapi sampulnya dibalut rapat dengan kertas payung warna cokelat polos. Tidak ada judul, tidak ada gambar. Mencurigakan sekali.
Seumur-umur, aku beli buku paling mentok kutaruh di rak sampai berdebu. Tidak pernah terpikirkan untuk menyampulnya serepot itu. Kecuali… isinya adalah sesuatu yang yang sangat “sesuatu”.
“Oh… abis dari toko buku, ya?” tebakku.
Tangannya yang baru saja mau membalik halaman mendadak kaku. Bahunya menegang.
Aha. Kena kau.
“Jangan bilang itu Novel BL?” tembakku langsung tanpa basa-basi.
“E-enggak! B-bukan kok!” bantahnya cepat. Nada suaranya naik satu oktaf, sementara matanya mendadak sangat tertarik pada aspal di bawah sepatunya.
Wajahnya merah padam sampai ke telinga.
Jawabannya bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dengan bahasa tubuhnya yang panik.
BL. Boys Love. Entah kenapa genre Novel percintaan antar-lelaki itu begitu populer di kalangan kaum hawa. Hmm apa ya sebutanya, Fujoshi?.
“Ada gila-gilanya lu baca novel begituan di tempat umum,” cibirku.
“B-biarin! Lagipula enggak ganggu orang lain, kan? Dan udah aku sampulin rapat!” balasnya defensif.
Dia mendekap buku itu ke dadanya. “Dan… ini volume terbaru yang udah aku tunggu-tunggu berbulan-bulan! Tokoh utamanya akhirnya confess! Jadi aku gak sabar langsung mau baca!”
Kalimat terakhirnya meluncur deras bak kereta ekspres. Matanya berbinar antusias, sebelum dia sendiri sadar kalau dia baru saja mengkhianati kebohongannya sendiri. Dia buru-buru menutup mulutnya dengan tangan yang tertutup ujung kardigan.
Aku menatapnya dengan ekspresi datar, layaknya melihat spesies alien yang gagal menyamar di Bumi.
Menyadari tatapanku, Bendahara berdehem pelan. Tiba-tiba dia menyodorkan buku itu ke arahku dengan wajah serius yang menakutkan.
“Mau aku pinjamin? Aku jamin kamu pasti suka. Si Uke-nya sifatnya mirip banget sama kamu, tahu. Cocok disandingin sama cowok dominan yang auranya kuat kayak—”
“W-wo-woi, Enggak. Skip. Terima kasih banyak,” potongku cepat, merinding membayangkan apa yang ada di kepalanya.
Bendahara tertawa kecil melihat reaksiku. Tawanya yang renyah itu entah kenapa membuat suasana sore ini terasa lebih ringan.
“Eh, ngomong-ngomong,” kata Bendahara, mencoba mengalihkan topik agar rahasia fujoshi-nya aman. Matanya memindai penampilanku dari atas ke bawah. “Wakil Ketua abis dari mana? Tumben wangi dan rapi banget? Biasanya kucel kayak keset basah.”
“Enak aja. Aku abis kenc—eh, maksudku belajar bareng.”
“Hoho~” Sudut bibirnya naik membentuk senyum penuh arti. Kacamata bulatnya seolah berkilat memantulkan cahaya sore. “Sama Ketua Kelas, ya?”
Aku tersentak. “Eh? Kok tahu?”
“Yah…” Dia memeluk bukunya santai sambil lanjut berjalan. “Kamu akhir-akhir ini kan kelihatan nempel terus sama Ketua Kelas. Kayaknya satu sekolahan juga udah mulai nyadar, deh.”
Hah? Masa iya? Perasaanku selama ini aku cuma bertindak sebagai bawahan merangkap babu yang disuruh-suruh ini itu sama Ketua.
“Banyak cowok yang iri sama kamu, loh,” lanjutnya dengan nada menggoda. “Gak banyak orang yang bisa dan berani-beraninya berdiri di samping Idola Nomor Satu sekolah kita.”
Hehehe.
Sial. Aku tidak bisa menyembunyikan senyum tolol yang perlahan mengembang di wajahku. Ada kepuasan aneh yang menggelitik dadaku. Mungkinkan ini yang disebut *Schadenfreu-*apalah itu.
“Ya… sebenarnya tadi gak berdua aja sih. Ada Sekretaris juga yang mendadak ikut,” jujurku, mengingat kembali betapa hancurnya kencan itu.
Bendahara berhenti melangkah. Dia menatapku dengan tatapan kasihan yang sangat tulus. Dia menepuk pundakku pelan.
“Ah. Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya, Wakil Ketua.”
“Kan? Cuma kamu doang yang ngerti penderitaanku.” Aku menghela napas dramatis, merasa menemukan teman senasib.
Seperti yang mungkin sudah bisa ditebak dari interaksi tadi, aku dan Bendahara memang sudah saling kenal sejak lama. Rumah kami berdekatan di gang yang sama.
Dari SD sampai SMA, takdir (atau kutukan) selalu menempatkan kami di kelas yang sama. Kalau ini cerita anime, posisinya sudah layak disebut piala heroine jalur osananajimi. Sayangnya, di mataku, dia sudah seperti kakak perempuanku sendiri. Satu-satunya yang membuatnya gagal masuk kategori “kakak” hanyalah tinggi badanya yang cuma setinggi gagang pintu kelas kita—dan fakta bahwa umur kami cuma selisih satu hari.
Oh iya, btw aku yang memaksanya jadi Bendahara kelas. Soal kenapa dia yang kupilih jadi Bendahara Kelas?
Awalnya murni karena keadaan darurat. Waktu itu tidak ada yang mau jadi pengurus kelas. Aku butuh tumbal. Pilihanku jatuh padanya karena satu alasan yang sangat kuat. Alasan yang sama persis dengan apa yang sedang gadis itu ocehkan di sampingku saat ini.
”…Pokoknya, duit dari Beasiswa bakal aku buat bayar UKT kuliah. Nah, uang saku yang dikasih dari keluargaku bakal aku beli-in apa yang aku pingin. Hehe.”
Dia itu mata duitan.
Setidaknya untuk posisi Bendahara yang bertugas menagih uang kas kelas yang susah ditarik, sifat pelit dan perhitungan itu sangat berguna.
“Kaya full chapter Novel BL yang mau lu baca?” celetukku menanggapi rencana cemerlangnya dalam mengelola keuangan pribadi.
“Ya bener, kaya full—” Dia menjawab refleks, lalu langsung membekukan dirinya sendiri di tengah jalan. ”…B-bukan itu yang aku maksud! Maksudku, misalnya beli buku… ehem, buku latihan soal! Atau kursus-kursus yang bisa ningkatin skill! Gimana?”
Gimana? apanya yang gimana?
Jawabannya yang terbata-bata itu bahkan tidak meyakinkan cicak yang nempel di tembok.
“Jadi, Bendahara mau lanjut kuliah, ya?” kataku, kembali berjalan di sebelahnya.
“Le-lebih tepatnya dipaksa sama keluarga sih.” Dia menyipitkan mata di balik kacamata bulatnya. “Makanya aku harus dapet beasiswa. Aku gak mau rugi.”
“Gak mau rugi waktu nge-fujoshi nya jadi berkurang?”
“Nah itu— eh, e-enggak, bukan gitu juga!” Wajahnya kembali merah padam.
Aku tertawa lepas. Tidak bisa tidak. Bersamanya selalu terasa mudah. Sisa-sisa ketegangan dari sesi belajar maut tadi perlahan mencair.
“Ah, udah sampe,” gumam Bendahara tiba-tiba.
Kami sudah tiba di depan rumah berpagar putih miliknya. Artinya kos-kosanku tinggal beberapa langkah lagi di depan sana.
“Aku duluan ya, Wakil Ketua. Bye bye!” ucapnya sambil melambaikan tangan riang, lalu menghilang ke balik pintu gerbang.
“Bye,” balasku santai.
Aku melanjutkan langkah, ditemani senja sore yang perlahan redup. Tepat saat aku membayangkan empuknya kasur, terdengar decit pintu ditarik kasar.
“OH IYA, WAKIL KETUA! AKU LUPA BILANG—”
Aku nyaris tersedak udara sendiri.
Bendahara menyembul lagi dari balik pintu, setengah badannya keluar.
“TADI IBU KOS NITIP PESAN KE AKU BUAT DISAMPEIN KE KAMU!” teriaknya melengking membelah gang sepi. “JANGAN LUPA BAYAR KOS BULAN INI! UDAH JATUH TEMPO!”
Deg.
Pintu tertutup rapat kembali.
Aku berdiri mematung di tengah gang.
Angin sore berhembus pelan, seolah ikut berduka cita.
Dompetku yang sudah sekarat sejak insiden traktir Es Boba Large Extra Topping mendadak terasa seperti padang pasir yang kering kerontang.
Ah. Habislah riwayatku.
Komentar