Latihan Soal dan Perhatian
Sesi belajar dimulai.
Meja kafe yang estetik ini seketika berubah menjadi medan perang akademik. Ketua mulai mengulas kembali soal ulangan matematika kemarin. Penjelasannya tenang, terstruktur, dan suaranya… ah, jauh lebih merdu daripada teriakan Ibu Guru Matematika di sekolah.
Jujur, materi yang dijelaskan Ketua sebenarnya sama rumitnya. Tapi entah kenapa, saat dia yang bicara, rasanya aku bisa betah mendengarkan seharian. Konsentrasiku terkunci sepenuhnya. Bukan pada angkanya, tapi pada bibir tipisnya yang bergerak menjelaskan rumus turunan.
“…jadi intinya, kalian harus sederhanakan dulu persamaannya baru diturunkan. Kalian paham, kan?”
Aku dan Sekretaris mengangguk serempak seperti boneka dashboard mobil.
“Paham, Ketua.”
“Oh, ternyata gini doang ngerjainnya? Gampang ini mah,” celetuk Sekretaris dengan nada sombong sambil memutar-mutar pulpennya.
Aku meliriknya datar. Gampang matamu.
Aku memilih diam, malas menanggapi. Aku sudah sekelas dengan makhluk berambut merah ini sejak kelas 10. Jadi aku tahu betul, kapasitas otak Sekretaris itu sebelas dua belas denganku. Kami selalu bersaing ketat di peringkat Top 5… dari bawah.
Bedanya, dia punya stamina monster buat lari keliling lapangan, sedangkan staminaku cuma kuat buat push rank semaleman.
Ketua menepuk tangan sekali. Plok!
Hal tersebut seketika mengambil alih fokus kita berdua.
“Bagus kalau paham. Sekarang, lanjut kerjakan latihan soal.”
Dia menyodorkan dua lembar kertas yang sudah dia siapkan.
“FYI, ini soal buatan aku sendiri. Tolong kerjain dengan benar. Aku gak terima jawaban ngawur apalagi alasan konyol,” ucap Ketua tegas. Nada bicaranya mengingatkanku pada trauma diomeli di kelas kemarin.
“Siap, laksanakan!”
Aku menatap kertas soal itu dengan tatapan membunuh. Harga diriku dipertaruhkan di sini. Aku tidak boleh terlihat bodoh di depan Ketua—apalagi di depan Sekretaris, pasti gak boleh.
Satu menit berlalu. Nomor satu… oke, lancar. Nomor dua… hmm, agak mikir, tapi bisa.
Wow gila, ternyata ada yang nyantol juga di otak ini. Aku mulai merasa jenius. Jangan-jangan aku ini hidden gem?
Masuk ke nomor tiga.
Aku macet total.
Ini soal apaan anjir? Perasaan tadi gak dijelasin deh.
Kenapa Matematika selalu begini? Contoh soalnya “1 + 1 = 2”, tapi pas latihan soal pertanyaannya mendadak jadi “Jika Budi punya 5 apel dan massa matahari adalah sekian, hitunglah diameter alam semesta.”
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, berpikir keras sampai asap imajiner mulai mengepul dari telingaku.
“Ketua~ Aku gak paham soal ini. Bisa tolong bantu?”
Suara cempreng yang dibuat-buat manja itu memecah konsentrasiku. Sekretaris mengangkat tangan sambil mengedipkan mata. Dasar caper.
Ketua, yang tadi sedang asyik membaca novel sambil menyesap kopinya, langsung menutup buku. Dia menggeser kursinya mendekat ke arah Sekretaris.
“Yang mana?” tanya Ketua lembut.
Saat Ketua sedang menunduk melihat kertasnya, Sekretaris tiba-tiba menoleh ke arahku.
Dia menyeringai lebar penuh kemenangan. Ekspresi wajahnya seolah berkata: “Heh, Aku menang.”
Sialan.
Apa-apaan itu? Aku iri. Aku juga mau!
Tak mau kalah, begitu Ketua selesai menjelaskan pada Sekretaris, aku langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi layaknya siswa teladan yang ambisius.
“Ketua! Aku juga! Aku juga ada yang gak paham!”
Ketua menoleh, alisnya terangkat sebelah. Tatapannya berubah dari lembut menjadi skeptis.
“Jangan bilang kamu gak paham semuanya, Wakil Ketua?” tanyanya sinis.
“Ah, e-enggak kok! Cuma bagian ini doang. Sumpah.”
Ketua menghela napas panjang. Dia bangkit dari kursinya, lalu berjalan memutari meja dan berdiri tepat di sampingku.
Dia membungkuk sedikit untuk melihat kertasku.
Deg.
Jantungku mendadak lupa caranya berdetak normal.
Jarak kami… terlalu dekat.
Aroma manis shampoo harumnya bercampur parfum yang lembut langsung menyerbu indra penciumanku. Helaian rambut panjangnya yang tergerai jatuh menyentuh bahuku, menggelitik kulit leherku.
Darahku berdesir panas, naik cepat ke wajah hingga telinga.
“Jadi…” bisiknya pelan, tepat di samping telingaku. “Yang mana yang bikin kamu bingung?”
Aku menelan ludah susah payah. Semuanya, Ketua. Keberadaanmu bikin aku bingung.
“E-eh… yang… yang ini. Bagian ini,” tunjukku asal dengan jari gemetar.
Ketua mencondongkan tubuhnya lebih dekat. Tangannya yang lentik memegang meja, mengurungku dalam radius aroma tubuhnya.
“Oh, ini kamu salah masukin rumus dasarnya,” ucapnya pelan.
Dia mengambil pulpen dari tanganku. Jari kami bersentuhan sekilas—hanya sedetik, tapi cukup untuk menyengatku seperti listrik statis.
“Lihat sini, jangan lihat mukaku,” tegurnya halus namun geli.
Mampus. Ketahuan.
“Harusnya kamu faktorkan dulu x-nya, baru bisa dicoret. Paham?”
Dia mencoret-coret kertasku dengan elegan. Aku mengangguk-angguk kaku, berusaha keras memproses angka-angka itu sambil menahan napas agar tidak pingsan karena gugup.
Setelah selesai menjelaskan, matanya yang tajam menyapu jawaban nomor satu dan duaku yang tadi kukira benar.
“Ah, bentar.” Dia mengetuk kertas dengan ujung pulpen. “Ini nomor satu sama dua juga masih salah.”
Eh? Masih salah?
Ketua menegakkan tubuhnya kembali, menjauhkan aroma surgawi itu dariku. Dia menatapku dengan sorot mata prihatin, bercampur sedikit rasa kasihan.
“Wakil Ketua… kalau hitungan dasar aljabar gini aja kamu masih sering meleset…” Dia menggantung kalimatnya, lalu menghela napas berat.
“Gimana kamu yakin bakal lulus Jalur Ujian nanti? Aku rasa kalau berharap lewat Jalur Nilai, udah gak ketolong ngelihat dari nilaimu yang sekarang. ”
Jleb
Kalimat itu meluncur tanpa rem. Tepat sasaran. Menusuk ulu hati dan menghancurkan sisa-sisa harga diriku.
Aku terdiam. Lidahku kelu. Fakta bahwa nilai rapormu merah membara memang tidak bisa dibantah.
“Ehh… ternyata Wakil Ketua mau lanjut kuliah?”
Suara sarkas itu datang dari seberang meja. Sekretaris menatapku dengan tatapan mengejek, bibirnya menyunggingkan senyum meremehkan.
“Emangnya otakmu nyampe? Mimpimu ketinggian, Mas!” cibirnya.
“Bacot kau, Sekretaris!” balasku kesal, berusaha menutupi rasa maluku.
“Ngaca dong! Nilai lu juga gak beda jauh sama punya gue.”
Sekretaris tertawa meremehkan. Dia memutar-mutar pulpennya dengan gaya angkuh.
“Eits, jangan samain aku sama kamu dong. Sorry ye,” katanya sambil mengibaskan rambut pendeknya. “Asal kamu tahu, aku udah dapet Surat Undangan dari kampus swasta ternama. Wleee!”
Dia menjulurkan lidahnya panjang-panjang.
Eh? surat undangan? Si sekretaris?
Seketika aku diam memproses dan karena tidak bisa membalas tingkah angkuhnya itu.
Ketua tersenyum bangga pada Sekretaris. “Seperti yang diharapkan dari Ace Lari sekolah kita.”
“Hehe… makasih, Ketua!”
Wajah Sekretaris langsung bersinar cerah. Hidungnya kembang kempis dipuji idola. Dia melirikku lagi dengan tatapan kemenangan mutlak. Seolah dia sudah terbang ke langit ketujuh, meninggalkan aku sendirian di dasar jurang keputusasaan.
“Tapi…”
Tiba-tiba, senyum manis di wajah Ketua lenyap. Berganti dengan senyum dingin yang familiar—senyum “Malaikat Pencabut Nyawa”.
Aura di sekitar meja mendadak berat dan mencekam.
“Sebelum bisa ambil beasiswa itu, syarat utamanya kamu harus lulus Ujian Sekolah dulu kan, Sekretaris?” tanya Ketua pelan, tapi menekan.
“Eh?”
Wajah Sekretaris yang tadi merah merona karena bangga, seketika berubah pucat pasi seperti mayat.
“Kalau semua nilai mata pelajaran mu masih di bawah standar kelulusan… mungkin kamu bisa ucapin selamat tinggal kepada Surat Rekomendasi tersebut.”
Sekretaris membeku. Senyum angkuhnya runtuh seketika. “Ah… i-itu…”
“Pfft!”
Melihat Sekretaris mati kutu dimarahi Ketua, aku tidak bisa menahan tawa. Rasanya puas sekali melihatnya kena mental.
“Hahaha! Mampus! Semuanya bakal percuma kalau gak lulus sekolah!” ejekku puas.
Ketua menoleh padaku. Tatapannya setajam silet.
“Kamu juga sama aja, Wakil Ketua,” potongnya dingin.
Tawaku tercekat di tenggorokan. Hening.
“Hadeh… Kalian berdua,” Ketua menunjuk kami bergantian dengan pulpennya, “berhenti saling ejek-nya, atau mau aku pergi dari sini lalu kalian belajar sendiri?”
Kami berdua menelan ludah serempak.
“I-iya, Ketua maaf…” jawab kami berbarengan dengan suara mencicit.
Dan kami pun melanjutkan sesi belajar bareng itu dengan suasana yang jauh lebih mengerikan. Tidak ada lagi ejek-ejekan. Yang ada hanya suara goresan pulpen di atas kertas dan detak jantung kami yang ketakutan.
Komentar