Belajar Bareng dan Sekretaris
Hari ini cerah. Bunga-bunga seolah bermekaran dan burung-burung berkicau merdu, seakan semesta sedang merayakan kebahagiaanku.
Oke, itu berlebihan. Tapi begitulah suasana hatiku saat ini. Kenapa? Karena hari ini aku ada janji dengan Bidadari Sekolah.
Aslinya sih cuma “belajar bareng”. TAPI, garis bawahi kata ini: belajar bareng berdua.
Bukankah di hari Sabtu sore yang indah ini, kegiatan berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan bisa didefinisikan sebagai kencan? Apalagi banyak pasangan lain di luar sana yang sedang menikmati weekend mereka. Jadi, sah-sah saja kalau aku menganggap ini kencan terselubung.
Kami sudah janjian via WhatsApp untuk bertemu di sebuah kafe estetik dekat sekolah.
Saking semangatnya—atau mungkin saking gugupnya—aku sudah sampai di lokasi 30 menit lebih awal. Strategi ini sudah kusiapkan matang-matang. Datang lebih awal berarti menunjukkan keseriusan. Poin plus di mata calon istri (eh, maksudnya di mata Ketua).
Aku berdiri di depan kafe, menatap pantulan diriku di kaca jendela luar.
Kaos putih bersih dibalut outer kemeja flanel warna hijau sage (atau toska? Entahlah, pokoknya hijau yang lagi ngetren di TikTok). Bawahannya celana chino warna krem dan sepatu kets putih.
Jujur saja, aku meriset gaya outfit ini berhari-hari lewat tutorial “OOTD Casual Pria Idaman” di YouTube. Aku harap usahaku tidak sia-sia dan bisa memancing setidaknya satu kalimat pujian dari Ketua.
Satu-satunya yang mengganggu cuma rambut bergelombang sialan ini. Tadi pagi aku sudah menghabiskan setengah botol pomade dan menyisirnya ke sana kemari, tapi rambut ini punya kehendak sendiri. Akhirnya aku menyerah dan membiarkannya dalam mode default: berantakan tapi (semoga) tetap artistik.
Tak lama kemudian, sebuah taksi online berhenti di tepi jalan.
Pintu terbuka, dan turunlah sosok yang membuat waktu seolah melambat.
Ketua.
Rambut hitam panjangnya yang indah itu tergerai bebas, berkilau tertimpa sinar matahari sore. Sama seperti di sekolah, memang. Tapi hari ini… auranya berbeda. Tanpa seragam kaku itu, damage-nya bukan main.
Dia mengenakan blouse putih gading dengan potongan leher sopan tapi anggun, dipadukan dengan rok plisket panjang berwarna cokelat susu yang jatuh dengan indah. Ada jepit rambut kecil berwarna merah di sisi kepalanya yang mempermanis penampilannya.
Bukan imut. Kata itu terlalu remeh.
Dia terlihat cantik dan elegan. Seperti kakak-kakak kuliahan atau model majalah fashion yang nyasar ke kafe ini.
Aku mematung di depan pintu kafe. Otakku nge-bug. Mulutku terkunci rapat.
Ketua berjalan mendekat, lalu tersenyum jahil melihatku yang masih bengong seperti patung selamat datang.
“Halo, Wakil Ketua? Kamu kenapa? Kesambet penunggu pohon mangga?”
Aku tersentak, nyawaku perlahan kembali ke tubuh. Panas menjalar cepat ke pipiku. Sial, aku pasti kelihatan bodoh banget barusan.
“E-eh, Ketua. Halo,” sapaku kaku, berusaha menetralkan degup jantung. “Enggak… cuma kaget aja. Kamu… beda banget hari ini.”
“Beda apanya?” Dia menatap penampilannya sendiri. “Rambutku sama aja kayak di sekolah, kan?”
“Bukan rambutnya, tapi… auranya. Kelihatan… ehem, cantik. Banget. Maksudku, elegan. Ya, elegan.”
Ketua tertawa renyah. Pipinya sedikit bersemu merah, walau dia berusaha menutupinya dengan sikap santai.
“Makasih. Kamu juga,” katanya sambil memindaiku dari atas ke bawah. “Tumben rapi banget? Biasanya kucel kayak belum mandi. Riset fashion di mana nih?”
Skakmat. Dia tahu.
“Y-yah, sesekali lah tampil rapi. Menghargai lawan bicara,” elakku sok bijak.
Ketua melirik jam tangannya. “Dan tumben banget kamu datang lebih awal? Biasanya telat adalah nama tengahmu.”
“Kan aku mau jadi pribadi yang lebih baik. Ayo masuk? Di dalam adem,” ajakku, ingin segera memulai sesi “kencan” ini.
Aku sudah bersiap membukakan pintu kafe untuknya layaknya gentleman sejati, tapi Ketua malah menahan langkahnya. Dia menoleh ke arah jalan raya.
“Tunggu sebentar ya. Satu orang lagi belum datang.”
Tanganku terhenti di gagang pintu.
Hah?
“Satu… orang lagi?” tanyaku pelan. Perasaanku mendadak tidak enak.
Belum sempat Ketua menjawab, suara teriakan cempreng yang sangat familiar terdengar dari kejauhan.
“KETUAAAA! MAAF TELAAATTTTT!”
Sesosok gadis berlari kencang menerobos trotoar. Rambut pendek bergelombang warna kemerahan memantul indah di bawah sinar matahari. Tubuhnya atletis tapi ramping.
Itu Sekretaris.
Dan penampilannya hari ini… cukup untuk membuat siapa saja menoleh.
Dia memakai atasan tanpa lengan (sleeveless blouse) berwarna hitam yang mengekspos bahu dan kulit putih mulus di area ketiaknya. Bawahannya adalah rok mini berbahan denim yang memamerkan pahanya yang jenjang dan kencang—tipe paha atlet lari yang sering dilatih.
Jujur, secara visual dia memang menarik. Sangat menarik. Tapi begitu melihat wajahnya, pesona itu langsung hilang di mataku.
Sekretaris berhenti di depan kami dengan napas ngos-ngosan. Dia menumpu tangan di lutut, lalu mendongak.
Senyum cerianya langsung lenyap begitu matanya menangkap sosokku. Ekspresinya berubah drastis, seolah baru saja menginjak kotoran kucing.
“Tunggu…” Dia menunjuk wajahku dengan jari telunjuknya. “Kenapa ada makhluk ini di sini?”
Darahku langsung naik ke ubun-ubun. “Seharusnya aku yang tanya! Kenapa Sekretaris ada di sini?! Kita berdua kan mau ken—maksudku—belajar bareng!”
Hampir saja aku keceplosan bilang “kencan”.
Sekretaris melipat tangan di dada, matanya memicing jijik. “Belajar bareng? Sama kamu? Idih, ogah banget. Aku ke sini mau minta ajarin Ketua, bukan mau lihat wajah kamu yang bikin bad mood.”
Aku menoleh ke Ketua dengan tatapan ‘Tolong jelaskan ini semua’.
Ketua tersenyum canggung, menggaruk pipinya yang tidak gatal.
“Ah, iya… Maaf aku lupa bilang,” ucap Ketua dengan nada tanpa dosa. “Kemarin Sekretaris chat aku, katanya dia juga butuh bantuan buat remedial Matematika hari Senin. Karena materinya sama, jadi kupikir… sekalian saja, kan? Biar efisien.”
Efisien ndasmu!
Hancur sudah angan-anganku.
Ladang bunga di hatiku terbakar hangus. Bayangan duduk berdua, saling tatap, tangan bersentuhan saat memegang pulpen… semuanya musnah. Berganti dengan realita pahit: Aku harus belajar ditemani si nenek lampir berambut merah ini.
“Ck, ya udahlah,” decak Sekretaris, lalu dia nyelonong masuk ke kafe sambil menyenggol bahuku dengan keras. “Minggir, jangan ngalangin jalan.”
Kami bertiga duduk mengelilingi meja bundar kecil di sudut kafe.
Atmosfer di meja ini terbagi menjadi dua zona iklim. Di sisi Ketua, hawanya sejuk dan tenang. Di sisiku dan Sekretaris, hawanya panas membara penuh aura permusuhan.
Tak lama kemudian, pesanan kami datang.
Segelas Caramel Macchiato dengan extra whipcream mendarat di depan Ketua. (Catatan mental: Ketua suka yang manis-manis, mungkin untuk mengimbangi hidupnya yang pahit mengurus kami).
Di depanku, terhidang Americano dingin yang hitam pekat, sepekat nasib kencanku hari ini.
Dan di depan Sekretaris… ada minuman berwarna warni neon—campuran sirup merah, soda biru, dan entah apa lagi. Namanya “Rainbow Unicorn Explosion” atau semacamnya. Aku ngeri melihatnya, apa ususnya tidak akan menyala dalam gelap setelah minum itu?
“Baiklah,” Ketua menepuk tangannya sekali, membuyarkan aksi saling lirik sinis antara aku dan Sekretaris. “Waktu kita tidak banyak. Ayo mulai.”
Ketua dengan anggun mengeluarkan buku paket Matematika, buku catatan, dan kotak pensil dari tasnya. Dia menata semuanya di meja, lalu menatapku. Matanya menyapu area meja di depanku yang kosong melompong.
“Wakil Ketua,” panggilnya.
“Ya?”
“Tasmu mana?”
Hening.
Aku meraba saku celana chino-ku. Kosong. Aku menengok ke kanan-kiri kursi. Kosong.
Mampus.
“Tas?” tanyaku polos, seolah itu adalah kosakata baru yang belum pernah kudengar.
Ketua menyipitkan mata. “Iya, tas. Yang isinya buku dan pulpen. Kita ke sini mau belajar, kan? Masa kamu mau nulis pakai jari di atas meja?”
“A-ah… itu…” Aku menggaruk kepalaku yang sudah ditata default.
Saking semangatnya berdandan dan meriset outfit kencan berhari-hari, aku melupakan hal yang paling fundamental. Aku lupa bawa tas sekolah.
“Ketinggalan di kosan,” jawabku lirih, mengecil seperti kismis.
Ketua menghela napas panjang. Dia tidak marah, tapi ekspresinya seolah berkata: ‘Aku sudah menduga hal ini akan terjadi, tapi aku tetap kecewa.’
Poin minus. Sudah pasti poin minus di mata calon istri. Selamat tinggal citra cowok reliable.
“Pfft!”
Suara tawa mengejek terdengar dari samping. Sekretaris menutup mulutnya, berusaha menahan tawa tapi gagal total.
“Ya ampun, Wakil Ketuaaa,” ejeknya dengan nada yang dibuat-buat. “Mau belajar kok nggak bawa buku? Kamu ke sini mau ngapain? Jadi pajangan kafe? Apa jadi cheerleader buat nyemangatin aku belajar?”
Dia menggeleng-gelengkan kepala dengan gaya sok tua.
“Makanya, kalau otak pas-pasan itu, setidaknya persiapannya dimatengin. Jangan kayak aku dong, siap sedia!”
Dengan penuh percaya diri dan gaya sedikit sombong, Sekretaris menarik tas selempang sporty-nya.
“Lihat nih, teladan yang baik!”
Dia menggebrak meja pelan, mengeluarkan sebuah buku tebal dengan sampul cokelat.
“Tadaaa!”
Hening.
Hening yang lebih sunyi daripada saat aku bilang lupa bawa tas.
Aku memiringkan kepala, membaca judul buku yang dia keluarkan dengan bangga itu.
Cerdas Berbahasa: Buku Paket Bahasa Indonesia Kelas XII.
Aku menatap buku itu. Lalu menatap Sekretaris. Lalu menatap buku itu lagi.
“Sekretaris…” panggilku pelan.
“Apa? Kagum?” tanyanya bangga sambil membusungkan dada.
“Kita hari ini mau belajar Matematika. Kenapa kamu bawa buku Bahasa Indonesia?”
Wajah bangga Sekretaris membeku. Senyumnya luntur perlahan seperti es krim jatuh ke aspal panas.
Matanya membelalak. Dia menyambar buku itu, membolak-balik halamannya dengan panik, seolah berharap isinya bisa berubah jadi rumus Pitagoras kalau dikocok.
“Lho? Kok? Tadi perasaan aku ambil yang warna cokelat… Matematika kan cokelat… Bahasa Indonesia juga cokelat… Hah?”
Wajahnya memerah padam, semerah rambutnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Bibirnya gemetar.
“Ketuaaa…” rengeknya tiba-tiba, suaranya berubah cengeng. “Maaf… aku buru-buru tadi… salah ambil buku… hiks.”
Aku menahan tawa sekuat tenaga sampai perutku sakit. Karma itu instan, Kawan.
Ketua memijat pelipisnya. Dia menatap kami bergantian: Satu cowok yang lupa bawa tas karena sibuk dandan, dan satu cewek yang salah bawa buku karena buta warna sampul.
“Ya Tuhan… dosa apa aku di kehidupan sebelumnya?” gumam Ketua.
Aku berbisik pelan ke arah Ketua, mumpung Sekretaris sedang sibuk merutuki kebodohannya. “Ketua, serius nanya. Gimana ceritanya makhluk ceroboh kayak dia bisa jadi Sekretaris OSIS dulu?”
Ketua menatap Sekretaris yang masih merengek, lalu menatapku dengan tatapan kosong.
“Entahlah,” desah Ketua pasrah. “Jujur, sampai detik ini pun aku juga masih bingung kenapa dulu aku milih dia. Mungkin itu salah satu misteri alam semesta.”
Ketua akhirnya merobek dua lembar kertas kosong dari buku tulisnya. Dia menyodorkan satu padaku, dan satu pada Sekretaris, lengkap dengan meminjamkan masing-masing satu pulpen.
“Sudah, jangan nangis. Dan kamu, jangan ketawa,” ucap Ketua datar.
Dia menatap kami berdua, lalu menggeleng pelan. Semangat mengajar di matanya tampak meredup sedikit.
Dan begitulah kenc—maksudku sesi belajar kami dimulai dengan kekacauan yang sempurna.
Komentar