Bab 4

Pacar dan Rasa Manis yang Hambar

Menghitung...

Sudah sepuluh menit aku berdiri di sini. Membatu.

Antrean di kedai ini mengular panjang seperti ular piton kekenyangan. Entah kenapa akhir-akhir ini kedai minuman berakhiran “tea” atau “boba” menjamur di mana-mana. Mungkin efek viral TikTok, sampai-sampai di setiap perempatan jalan pasti ada saja yang jualan.

Bagi spesies lelaki—khususnya aku—jarang sekali ada niatan mampir ke tempat beginian secara sukarela. Mending uangnya buat top up diamond, gacha, atau billing warnet.

Tapi, demi titah Sang Ketua, aku rela jadi patung bernapas di sini.

Akhirnya, giliranku tiba di depan meja kasir.

“Silakan, Kak, mau pesan yang mana?” tanya kakak penjualnya ramah.

Aku blank.

Mataku menyapu daftar menu yang penuh istilah asing. Hazelnut, Matcha, Taro, Macchiato… ini kedai minuman apa daftar mantra Harry Potter? Aku belum pernah pesan beginian seumur hidup.

“Es Boba ….”

Tunggu, tadi Ketua pesan yang mana?

Brown Sugar?” tebakku asal. Harusnya benar yang ini, kan? Warnanya cokelat gula aren.

“Oke. Ukuran apa, Kak?”

“Mmm…. yang paling gede.”

“Oh, Large, ya. Mau tambah topping?”

“Iya, extra topping,” sambarku cepat, mengingat instruksi spesifik Ketua. Salah dikit nyawa taruhannya.

“Oke, Kak. Ada lagi?”

Aku mengecek isi dompet sekilas. Lembaran Pattimura masih ada beberapa. Masih cukup, sih. Walaupun aku harus pesan satu lagi buat diriku sendiri supaya tidak terlihat menyedihkan cuma menonton Ketua minum.

Kapan lagi bisa minum Es Boba bareng idola sekolah? Gak jajan seminggu bukan masalah. Anggap saja investasi masa depan.

“Satu lagi, yang biasa saja. Yang paling murah,” putusku.

“Baik, Kak. Atas nama siapa?”

“Wakil Ketua.”

Sambil menunggu pesanan, aku membuka WhatsApp yang biasanya sunyi senyap seperti kuburan Firaun. Ada satu pesan masuk dari grup mabar.

Grup Mabar Abadi: Tangkapan besar hari ini! [Foto ikan lele dumbo jumbo]

Dasar si Laknat Mancing. Bajingan, aku iri….

Tiba-tiba terbesit di pikiran, apa mending aku ikut si Laknat ini memancing lele saja daripada memancing masalah dengan Ketua?

“Atas nama Wakil Ketua!” panggil kakak penjual.

“Ah, iya. Saya.”

Aku melakukan pembayaran dengan hati teriris. Selamat tinggal, uang jajan seminggu. Aku akan merindukanmu.

Saat menyerahkan kemasan plastik, mbak kasir itu tersenyum jahil. “Buat pacarnya ya, Kak? So sweet banget….”

“E-eh? Ah, i-iya….”

Aku tidak bisa menahan ekspresiku. Wajahku otomatis senyum-senyum sendiri kayak orang gila mendengar pernyataan itu.

Pacar, ya?

Bintang lima!

Pokoknya aku harus kasih rating bintang lima di Google Maps untuk kedai ini sekarang juga. Pelayanannya sangat memuaskan ego dan halusinasi pelanggan.

Tak ingin es di tanganku mencair jadi air kobokan, aku bergegas kembali ke sekolah menemui “pacar”-ku yang sudah menunggu.

Dengan hati riang gembira—walaupun dompet sudah sekarat—aku sampai di area sekolah. Suasana gerbang cukup ramai. Ada yang mabar di pos satpam, nongkrong di gazebo, atau yang mojok berduaan.

Persis seperti rencanaku sekarang. Muhehehe.

Dari jauh, aku melihat sosok Ketua yang sedang duduk manis di gazebo depan sekolah.

Tunggu.

Ada orang di sampingnya.

Cowok.

Ganteng. Postur tegap, seragam rapi dimasukkan (tanpa dipaksa guru BK), rambut klimis, jam tangan mahal.

Sialan, dia ganteng sekali sampai-sampai aku yang cowok normal saja mau tidak mau harus mengakuinya. Aura alpha male-nya memancar kuat.

Tiba-tiba hatiku yang tadi melambung setinggi satelit, jatuh bebas menghantam aspal. Entah kenapa, langkahku melambat. Kantong plastik berisi Boba ini terasa lebih berat dari barbel gym.

Aku menundukkan kepala, berharap laki-laki sempurna di samping Ketua itu segera pergi. Di hadapannya, aku merasa… kecil. Seperti butiran debu di casing HP.

“Ah, Wakil Ketua! Lama banget, aku sudah nungguin dari tadi!”

Suara Ketua menembus lamunanku. Kuberanikan diri mengangkat kepala.

Wajahnya cemberut. Sedikit marah karena menunggu lama, tapi entah kenapa malah terlihat imut. Ah, dan syukurlah, laki-laki ganteng tadi sudah menghilang entah ke mana. Hatiku sedikit lega, meski rasa minder tadi masih tersisa.

Aku berlari kecil menghampirinya.

“Siap. Ini Brown Sugar Boba ukuran Large dengan Extra Topping milik Tuan Putri.”

Ketua menyambar minuman itu tanpa basa-basi. “Terima kasih, Wakil Ketua.”

Aku duduk di sampingnya, menjaga jarak aman sekitar tiga puluh sentimeter. Ketua menusuk tutup plastik dengan estetik dan menyedot minumannya. Wajah kesalnya langsung luluh begitu rasa manis menyentuh lidah. Matanya berbinar.

Aku pun menusuk minumanku sendiri. Apa rasanya? Manis. Manis banget.

Tapi perlahan, rasa manis itu berubah hambar ketika bayangan cowok tadi kembali muncul di kepala.

“Apa tadi itu… pacar Ketua, ya?” tanyaku pelan, nyaris berbisik.

Sial. Mulutku. Kenapa pertanyaan bodoh itu keluar?

Ketua menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Pacar? Oh, yang barusan ngobrol sama aku?”

Aku mengangguk kaku.

Dia tertawa kecil. “Bukan, kok. Dia Ketua OSIS periode sekarang. Tadi kami cuma ngobrol sebentar soal masalah internal OSIS.”

“Oh….” Aku mengaduk-aduk bobaku dengan sedotan.

Benar juga. Cowok tadi adalah Ketua OSIS yang baru.

“Ketua OSIS yang sekarang… berarti dia Wakil Ketua OSIS di periode kamu dulu, kan?” tanyaku memastikan.

“Yap. Kamu tahu juga ternyata.”

Ya wajar aku tahu. Dulu kalian ke mana-mana selalu bareng. Pasangan emas sekolah. Couple Goals versi akademis.

Ketua tersenyum, tatapannya menerawang seolah mengenang masa lalu.

“Dia itu cekatan banget. Gesit. Dulu dia sangat ngebantu waktu aku jadi Ketua OSIS. Gak seperti wakil ketuaku yang sekarang.”

Jleb.

Kalimat itu meluncur mulus, tanpa rem, langsung menabrak ulu hatiku. Menghancurkan sisa-sisa kepercayaan diri yang kupunya.

Hening.

Seharusnya aku membalas candaan itu. Seharusnya aku tertawa dan bilang, “Yaelah, kan aku wakil jalur giveaway,” atau “Maaf deh bukan spek dewa.”

Tapi lidahku kelu. Tenggorokanku tercekat.

Rasa manis boba di mulutku mendadak terasa pahit dan seret. Aku hanya diam, menunduk menatap sepatu ketsku yang sudah agak dekil, sangat kontras dengan sepatu kulit mengkilap milik cowok tadi.

Ketua menyedot minumannya lagi, tapi kemudian dia berhenti. Dia menyadari sesuatu. Keheningan ini bukan keheningan yang nyaman.

Dia menoleh perlahan, menatap wajahku yang berubah masam.

“Hei… Wakil Ketua?” panggilnya pelan. Nada bicaranya berubah, tidak lagi bernada jahil. “Kamu… marah?”

Aku memaksakan seulas senyum tipis, meski rasanya kaku sekali. Topengku retak.

“Hah? Enggak kok. Emangnya aku kenapa?”

“Kamu diam saja.” Ketua meletakkan minumannya di bangku. Dia terlihat kikuk, salah tingkah. “Aku… aku cuma bercanda soal yang tadi. Kamu… kamu juga ngebantu, kok. Dengan caramu sendiri.”

“Iya, ngebantu menuhin kuota kursi doang, kan?” jawabku sarkas. Bukan pada dia, tapi pada diriku sendiri.

Ketua terdiam. Raut wajahnya menyiratkan rasa bersalah yang tulus. Dia mungkin sadar kalau perbandingannya tadi agak keterlaluan—apalagi diucapkan tepat setelah aku membelikannya minuman pakai uang jajan terakhirku.

“Dengar,” ucapnya tiba-tiba, suaranya sedikit lebih tegas namun lembut. “Sebagai tanda terima kasih buat bobanya… dan permintaan maaf karena mulutku yang lemes ini… gimana kalau kita belajar bareng?”

Aku menoleh kaget. “Hah? Belajar?”

“Iya. Buat ulangan susulan atau materi selanjutnya. Aku ajarin sampai kamu paham. Gratis. Anggap aja bayaran les privatku ditukar sama Brown Sugar ini.” Dia menunjuk gelas minumannya sambil tersenyum canggung.

Baru saja aku hendak menjawab—antara mau menolak karena malas atau menerima karena gengsi—ponsel Ketua di saku blazernya bergetar panjang.

Dia merogoh saku dan melihat layar ponselnya. Matanya membelalak horor.

“Kenapa?” tanyaku.

Ketua menelan ludah susah payah, lalu memutar layar ponselnya ke arahku. Itu notifikasi pesan dari grup kelas.

Ibu Guru Matematika: Halo Ketua Kelas, Ibu sudah selesai mengoreksi hasil ulangan tadi. Nilai kalian… luar biasa mengecewakan. Hampir satu angkatan nilainya di bawah KKM. Tidak ada yang tuntas kecuali beberapa orang. Pertemuan berikutnya sebelum masuk bab baru, kita akan adakan REMEDIAL TOTAL. Persiapkan diri kalian.

Aku dan Ketua saling pandang. Angin sore berhembus dramatis di antara kami.

“Oke,” kataku lemas. “Tawaran belajar barengnya masih berlaku?”

Ketua menghela napas panjang, wajahnya kembali ke mode serius alias mode perang.

“Sangat berlaku. Kita dalam bahaya, Wakil Ketua.”

Komentar