Bab 3

Ulangan Harian dan Es Boba

Menghitung...

Hari Ulangan Harian sudah tiba.

Gara-gara semalam kebablasan push rank (lagi), aku memutuskan untuk langsung tidur karena nggak mau telat berangkat sekolah (lagi).

Yah, setidaknya aku sudah berusaha belajar sedikit semalam. Harusnya aman, ‘kan?

Hari ini hanya akan ada ulangan harian Matematika. Kabarnya kami akan pulang cepat dikarenakan para guru harus menghadiri sosialisasi dari pemerintah daerah. Info surga ini sudah dibagikan di grup chat Kesiswaan dan diteruskan ke grup kelas XII A.

“Untuk ulangan BAB 1, soalnya Ibu diktekan, ya. Jadi siapkan selembar kertas untuk menulis soal dan jawabannya. Kalau sudah selesai, nanti ditumpuk di meja guru,” ucap Ibu Guru Matematika.

Klasik ulangan harian. Entah guru mana yang memulai tradisi ini, tapi tiap ulangan kami harus menyobek kertas dari buku tulis bagian tengah. Kadang buku tulisku sampai tipis gara-gara dimintai teman sekelas.

“Bre, bagi lembaran dong!” pinta teman laknat sebangkuku.

Kan? apa aku bilang.

“Lu kan ada buku sendiri. Lagian masih baru, kan? Harusnya masih banyak.”

“Oh, itu…” Dia menyengir tanpa dosa. “Gue nggak bawa tas. Cuma bawa pensil sama penghapus. Hehe.”

Si laknat satu ini memang sudah tidak tertolong. Mentang-mentang bakal pulang cepat, aku yakin habis ulangan bocah ini langsung cabut mancing.

“Hah… ya sudah, nih.” Dengan terpaksa aku merobek kertas lagi dari buku tulisku yang (tadinya) masih gemuk ini.

“Tempat duduknya Ibu acak ya. Jadi nanti di meja kalian cuma ada kertas dan alat tulis.”

Hah?

Tunggu dulu, ini namanya bukan klasik ulangan harian!

Tanpa membuang waktu, Ibu Guru Matematika langsung mengacak tempat duduk para siswa di kelas. Banyak siswa yang mengeluh karena perubahannya terlalu mendadak. Tapi tentu saja, keluhan mereka hanya dianggap angin lalu oleh beliau.

Untungnya, tempat dudukku tidak berubah. Tetap di bagian belakang, pojok kiri kelas.

Home sweet home.

Omong-omong, si teman laknat yang tadi minta kertas tadi dipindah persis ke depan meja guru. Semoga berhasil, Kawan. Kami akan mengenang jasamu.

Sekarang aku penasaran, siapa yang akan menjadi teman sebangku dalam menaklukkan medan perang ini?

Tak lama kemudian seseorang berjalan ke arah ku.

Ketua.

Sosoknya yang anggun namun serius itu berjalan sambil membawa “senjata tempurnya”—alat tulis maksudku. Pemandangan itu selalu saja menawan dan sukses membuatku bengong seketika.

“Mohon kerjasamanya, Wakil Ketua.”

Sambil menyelipkan rambut ke belakang telinganya, dia perlahan duduk di sampingku.

Woahhh.

Entah mengapa, tiba-tiba di hatiku tumbuh ladang bunga yang luas. Rasanya aku ingin berlarian kegirangan di tempat indah itu.

“Biar jelas”, katanya datar, “Aku nggak akan ngasih contekan ke kamu, ya.”

Seketika ucapannya membuat ladang bunga di hatiku layu terkena hama, membawaku kembali terhempas ke kenyataan pahit.

“Ja-jangan gitu dong, Ketua. Membantu teman nggak ada salahnya, ‘kan? Hehe.”

Ketua tidak membalas perkataanku dan langsung membuang muka, menatap papan tulis.

Noooo! Penyelamatku satu-satunya! Harapanku pupus seketika.

“Oke, siap-siap. Soalnya cuma lima, kok. Sedikit,” ujar Ibu Guru dengan nada menenangkan.

Satu kelas menghela napas lega. Lima soal? Kecil.

Tapi kelegaan itu hanya bertahan sepuluh detik.

“Soal nomor satu,” lanjut Ibu Guru. “Jelaskan dan uraikan pembuktian rumus berikut, serta berikan tiga contoh penerapannya dalam kasus bangun ruang tidak beraturan…”

Hening.

Satu kelas mendadak sunyi senyap. Itu bukan soal, itu esai bencana!

Soalnya memang cuma lima dan “sedikit”, tapi jawabannya bisa bikin kertas penuh bolak-balik sampai sobek!

Sepuluh menit berlalu, aku baru menulis setengah jawaban nomor satu. Keringat dingin mulai menetes. Tiba-tiba, suara kursi berdecit memecah keheningan.

Si teman laknat yang duduk di depan meja guru berdiri dengan percaya diri. Dia berjalan ke depan, menumpuk kertasnya, lalu menyalami Ibu Guru.

“Duluan, Bu!”

Ibu Guru menatap kertas jawaban si teman laknat itu sekilas, lalu menghela napas panjang.

“Yang lain kerjakan yang benar. Kalau jawabnya ngawur begini, Ibu langsung salahkan semua. Ibu nggak terima jawaban asal-asalan!” seru Ibu Guru sambil melirik tajam ke arah si teman laknat yang sudah melesat keluar pintu.

Aku menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu kelas.

Gugur satu prajurit di tengah perang. Pengorbananmu menjadi peringatan bagi kami semua, Kawan. Jangan jawab ngawur.

Masalahnya… aku bahkan nggak tahu jawaban yang nggak ngawur itu seperti apa.

Aku melirik ke samping. Ketua sedang menulis dengan lancar, tenang, dan elegan. Tulisan sambungnya terlihat rapi menari-nari di atas kertas.

Aku panik. Waktu tinggal lima belas menit lagi.

Diam-diam, aku menyobek ujung kertas kecil, menulis pesan singkat:

“Ketua, bagi satu aja dong. Nomor 3. Plissss.”

Aku menggeser kertas itu pelan-pelan ke mejanya saat Ibu Guru sedang melihat ponselnya. Ketua melirik kertas itu, lalu menulis balasan di bawahnya.

“Nggak mau.”

Sadis!

Tapi aku belum menyerah. Aku menulis lagi.

“Aku bakal lakuin apa aja deh. Apapun! Tolong hambamu ini.”

Ketua membaca pesan itu. Dia berhenti menulis sejenak. Sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyum tipis yang mencurigakan. Dia menoleh padaku, lalu menulis lagi:

“Apa saja?”

Aku mengangguk cepat, penuh semangat.

Tiba-tiba, Ketua mendekatkan wajahnya ke arahku. Aroma harum sampo tercium jelas. Jantungku berdegup kencang, suaraku tercekat. Dia mendekat ke telingaku, seolah hendak membocorkan rahasia negara.

“Jawabannya…” bisiknya lembut, membuat bulu kudukku meremang.

Aku menahan napas, siap menyalin.

”…A.”

Aku diam. Pipiku memanas, tersipu malu karena jarak wajah kami yang begitu dekat, dan pikiranku sempat traveling kemana-mana karena bisikan lembut itu.

Tunggu.

Hah?

Mataku membelalak. Aku menatap soal di kertasku.

Ini soal esai! Nggak ada pilihan ganda A, B, C, atau D!

Aku menoleh patah-patah ke arah Ketua. Dia sudah kembali duduk tegak, menahan tawa sambil menutup mulutnya dengan tangan. Wajahnya terlihat puas sekali sudah mengerjaiku.

“Waktu habis! Tumpuk semua di depan!” teriak Ibu Guru.

“Tidaaakkk!”

Mau tidak mau, aku mengumpulkan kertas dengan jawaban seadanya. Seingatku, aku hanya menulis ulang soal dan memasukkan rumus-rumus acak yang kuingat dari belajar kilat semalam.


Bel pulang berbunyi sepuluh menit kemudian.

Kami berjalan keluar gerbang sekolah. Matahari siang ini terasa terik, tapi tidak sepanas hatiku yang hancur lebur karena ulangan tadi.

“Terima kasih kerjasamanya, Wakil Ketua,” ucap Ketua sambil berjalan santai di sampingku.

“Kerjasama apanya? Kamu nipu aku! Mana ada jawaban esai ‘A’?” gerutuku.

Ketua tertawa kecil. “Oh iya, Tadi di kertas kamu bilang ‘lakuin apa saja’, kan?”

Perasaanku mulai tidak enak. “Iya, terus?”

“Nah, sebagai ganti karena aku sudah ‘berusaha’ membantu…” Dia menunjuk sebuah kedai minuman di seberang jalan yang antriannya cukup panjang. “Aku mau Es Boba. Yang Brown Sugar, ukuran Large, extra topping.”

“Ketua, kamu nggak bantu apa-apa!” protesku.

“Aku bantu,” katanya sambil tersenyum menang. “Aku balas kertasmu.”.

Aku merogoh saku celana. Dompetku terasa sangat tipis, setipis harapanku mendapat nilai tuntas di ulangan Matematika tadi.

“Duit jajan seminggu…” gumamku lirih, sambil melangkah gontai menuju kedai Boba.

Sepertinya hari ini bukan cuma nilai Matematikaku yang hancur, tapi kondisi keuanganku juga.