Bab 2

Sore itu dan Malam itu

Menghitung...

Kembali ke masa kini.

Masih di ruang kelas XII A yang kosong melompong. Hanya ada aku dan Ketua Kelas, yang baru saja menyodorkan fakta pahit yang enggan kutelan.

Wajahku membeku mendengar pernyataannya.

“Jangan bilang kamu lupa” Ketua memicingkan mata.

“Huft, Pertemuan kemarin kan udah diingetin sama Bu Guru Matematika,” tambahnya sambil menghela napas panjang, seolah menghadapi balita yang susah diatur.

“Kalau ingatanmu sependek ini, boro-boro mau wujudin 19 juta lapangan pekerjaan. Satu aja—buat diri kamu sendiri—kayaknya mustahil.”

Jleb.

Candaan Ketua barusan tajamnya ngalahin silet. Memecah keheningan sekaligus harga diriku.

“Ketua… tolong ajarin aku buat ulangan besok, ya?” pintaku memelas. Aku memasang wajah paling menyedihkan yang kubisa.

Jujur saja, siapa sih di dunia ini yang rela mati-matian belajar Matematika? Kecuali satu orang di hadapanku ini.

Selain mantan Ketua OSIS, dia adalah langganan Ranking 1 pararel. Ulangan harian, UTS, UAS, bahkan teori Olahraga pun dia libas. Definisi kata “Sempurna” di kamusku ada fotonya dia.

“Gak mau,” tolak Ketua tegas tanpa menoleh. “Aku sendiri belum kelar belajar buat besok. Jadi, menyerahlah.”

“Ehhh….” aku mengeluh panjang. “Kalau bentaran gimana? Plis, plis, plis?”

Ketua menghentikan tangannya yang sedang memilah kertas. Perlahan, dia menoleh padaku. Tatapannya berubah. Aura di sekelilingnya mendadak gelap. Aku menelan ludah kasar.

Firasatku buruk.

“WAKIL KETUA,” panggilnya dengan penekanan di setiap suku kata.

“I-iya?”

“Kita… ralat. AKU, dari tadi lagi ngapain di sini?”

“Ng-ngerapihin dokumen yang diminta Wali Kelas?” jawabku terbata-bata.

“Bagus. Pinter. Seratus buat kamu.”

Tiba-tiba Ketua memujiku dan tersenyum manis.

Tapi sensor bahaya di otakku menjerit kencang. Itu bukan pujian dan senyum yang ramah. Itu “Malaikat Pencabut Nyawa” yang lebih seram dari film horor manapun.

”Lalu, kamu ingat gak sebelum ke sini aku minta tolong apa?”

“Minta bantuin rapihin dokumen…”

“Terus… dari tadi kamu ngapain?”

“E-eeh?” Keringat dingin mulai menetes.

“Malah ngalor-ngidul ngomongin masa depan, bahas politik, terus sekarang seenaknya minta ajarin ulangan padahal kerjaan belum kelar?”

“Mmm…. itu…”

Ketua masih mempertahankan senyum mengerikannya.

“Sori, Ketua. Aku minta maaf. Tolong jangan senyum kayak gitu, sumpah serem banget.”

“?”

Dia membuat ekspresi bingung sesaat, lalu kembali tersenyum psycho.

“Senyum apa yang kamu maksud?”

Sial… dia menikmatinya.

“Oke! Aku bantuin! Beneran aku kerjain sekarang! Jadi tolong berhenti senyum kayak gitu!”

Tanpa ba-bi-bu, aku langsung menyambar tumpukan dokumen dan mulai memilahnya secepat kilat.

Sekadar info, tugas ini harusnya dikerjakan Sekretaris dan Bendahara juga. Tapi si Sekretaris lagi ada urusan mendadak dan Bendahara sudah dijemput orang tuanya. Jadilah kami berdua tumbal sore ini.

Akhirnya, dengan kecepatan penuh (karena takut diamuk Ketua), dokumen itu selesai juga. Kami pulang saat matahari sudah benar-benar terbenam.

Di perjalanan pulang ke kosan, aku kepikiran celetukanku soal “kuliah bareng”. Entah setan apa yang merasukiku tadi.

Kuliah bareng? Hah… jujur aku sendiri gak kepikiran bakal bisa.

Tapi ada satu aturan baru yang kutetapkan dalam hidupku hari ini: Jangan bikin Ketua marah. Level marahnya setara Ibu kost nagih tunggakan, bahkan lebih seram.


Malam harinya.

Aku mengumpulkan sisa-sisa niat untuk belajar Matematika. Siapa tahu ada keajaiban, aku dapat nilai bagus, lalu bisa pamer ke Ketua kalau aku layak masuk universitas pilihannya.

Setup sudah sempurna: Lampu belajar nyala terang, kopi hitam panas mengepul, dan buku paket Matematika siap menjadi lawan.

Kubuka perlahan buku tebal yang sampulnya masih mulus saking jarangnya disentuh itu.

BAB 1: Geometri Ruang.

Aku membaca paragraf pertama.

Hmm, oke. Masih bahasa Indonesia.

Lalu aku melihat ada gambarnya.

Wah, ada gambar kubus. Kelihatannya gampang nih, tinggal tarik garis.

Rasa percaya diriku naik sedikit.

Satu menit berlalu. Dua menit berlalu.

Oke, aku tarik kata-kataku barusan.

Ini apaan anjir?

Diketahui Kubus ABCD.EFGH dengan panjang rusuk a cm. Tentukan jarak titik A ke bidang BDE…

Hah? Titik A mau ke BDE ngapain? Jauh amat?

Makin ke bawah, tulisan latin berubah jadi simbol-simbol alien. Ada akar, ada pangkat, ada huruf Yunani yang nyasar.

Otakku mulai overheat. Asap imajiner mengepul dari kepalaku.

Sebenarnya siapa sih orang kurang kerjaan yang mencampurkan abjad ke dalam Matematika? Perasaan waktu SD angka doang masih gampang. Kenapa sekarang jadi pasar aksara?

Seketika aku kagum pada diriku sendiri. Hebat juga aku bisa naik kelas sampai tahun terakhir tanpa mengerti satu pun simbol ini.

Karena stuck dan hampir gila membaca buku paket, aku punya ide brilian: Cek buku catatan! Biasanya guru ngasih cara cepat, kan?

Kubuka buku tulis Matematikaku.

Dan…

Bersih. Suci. Tanpa noda.

Halaman itu putih bersih seperti bayi baru lahir. Kalaupun ada tulisan, cuma ada gambar kubus yang garisnya meleyot sana-sini seperti cacing kepanasan. Tulisan tanganku sendiri bahkan lebih mirip sandi rumput pramuka daripada rumus.

Saat aku sedang merutuki kebodohanku membolak-balik halaman kosong, ponselku bergetar hebat.

Ping! Ping! Ping!

Notifikasi grup WhatsApp “Mabar Abadi” meledak.

“Info Login?” “Gas.” “Gas lah. Otw Mythic malam ini kita.” “Min satu, Waketu. Gas login!”

Benar dugaanku. Teman-teman laknat ini mengajak mabar Mobile Legends.

Jujur, ajakan ini menggoda iman. Niat belajar yang sudah kubangun setinggi piramida mendadak runtuh jadi butiran debu.

Nih bocah-bocah pada gak belajar apa gimana? Bukannya besok ulangan?

Iseng, aku membalas di grup.

“Kalian gak pada belajar kah? Besok ulangan MTK woy.”

Balasan mereka datang secepat kilat, seolah tanpa dosa.

“Hah? Besok ulangan?” ”Aman, contekan ada di tangan Tuhan.” ”Dahlah pikirin besok aja itu mah. Login cepet, dua bintang lagi Mythic nih, nanggung!” [Sticker Patrick pura-pura gak liat]

Nyesel gue nanya. Ternyata otak mereka sebelas dua belas sama gue.

Yahh… mungkin satu-dua match gak masalah kali ya? Sekalian refreshing, tadi kan udah baca tiga lembar (walau cuma baca judul). Habis mabar, baru lanjut belajar lagi. Rencana yang sempurna.

Jari jempolku mengetik dengan mantap.

“Gas!”

Beberapa jam berlalu.

Rencana “satu-dua match” hanyalah mitos. Karena sistem Lose-Win-Lose-Win yang terkutuk, kami butuh perjuangan darah dan air mata untuk naik rank.

“Akhirnya Mythic, brokkk…” terdengar suara lega para laknat di voice chat Discord.

“Thank you, thank you, gendongan maut,” sahutku puas.

“Gue off Discord dulu ya, udah malem. Otsukare minna-san!”

“Yoi.”

Satu per satu ikon teman-temanku berubah menjadi abu-abu tanda offline.

Tunggu.

“Udah malem”?

Perasaanku mendadak tidak enak. Perlahan, aku melirik jam di sudut layar ponsel.

00:32.

Mataku melotot. Jantungku berhenti berdetak sesaat.

Sialannnnnn!!!!

Buku Matematika di atas meja seolah menertawakanku yang belum belajar satu huruf pun.