Bab 1

Ketua Kelas dan Wakil Ketua Kelas

Menghitung...

Mari kita putar waktu sebentar ke minggu lalu.

Cerita ini bermula di hari pertamaku menjadi siswa kelas 12. Hari yang sakral, harusnya penuh semangat. Tapi realitanya? Aku bangun kesiangan. Klasik.

Gara-garanya simpel: semalaman suntuk push rank bareng teman-teman laknat itu. Aku sampai lupa kalau libur semester sudah habis dan hari ini sekolah sudah masuk.

Pagi itu, alarm ponselku menjerit-jerit, berusaha menarik perhatianku yang sedang mimpi indah. Seperti manusia normal pada umumnya, tanganku meraba-raba asal untuk membungkam sumber suara itu.

Huh, masih jam lima pagi? batinku setengah sadar.

Mataku terasa berat, seolah dilem lem setan. Tanpa pikir panjang, aku memutuskan untuk tidur lagi.

“Lima menit lagi deh…”

Dan kalian pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya. “Lima menit” itu adalah penipuan terbesar dalam sejarah umat manusia.


Sinar matahari menerobos jendela kamar kos, menampar wajahku tanpa ampun. Hawa panas yang menyengat akhirnya memaksaku membuka mata. Dengan nyawa yang belum terkumpul, aku meraih ponsel.

Ada puluhan notifikasi dari grup mabar.

“Woy, lu di mana kocak?”

“Masih hidup kah?”

“Kesiangan nih bocah…”

Mataku membelalak saat melihat jam di layar.

08:02.

Anjir. Mampus gue!

Panik melanda. Aku langsung lompat dari kasur, mandi bebek (asal basah), dan menyambar seragam putih abu-abu. Jangan tanya kenapa orang tua gak ngebangunin—aku nge-kos sendirian. Alasan detailnya nanti saja kuceritakan, sekarang aku harus lari!

Jarak kos ke sekolah cuma 10 menit jalan kaki. Tapi hari ini, aku harus memecahkan rekor lari sprint dunia. Napasku ngos-ngosan saat gerbang sekolah mulai terlihat. Jantungku berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta, tapi karena takut gerbang sudah dikunci.

Plis Tuhan kali ini aja… jangan ditutup, doaku dalam hati.

Dan… Bingo!

Gerbang masih terbuka lebar. Pos satpam kosong melompong. Rasanya aku baru saja menghabiskan jatah keberuntunganku selama setahun penuh. Suasana hening. Kemungkinan besar semua guru dan staf sedang rapat pagi pasca upacara.

“Hoki parah…”

Tanpa buang waktu, aku menyelinap menuju kelasku yang ada di lantai tiga, XII A. Sekolah ini punya sistem unik, setiap tahun siswa diacak. Jadi si Pintar dan si Bodoh dicampur aduk. Aku jelas masuk kategori kedua, tapi setidaknya huruf ‘A’ di nama kelas bikin aku merasa agak pinteran dikit.

Aku berjalan mengendap-endap seperti maling jemuran menuju pintu kelas. Berharap belum ada guru.

Tanganku menyentuh gagang pintu, membukanya perlahan.

Krieeettt…

Sialan. Engsel pintu tua ini malah berbunyi nyaring bak terompet sangkakala.

Seketika, hening pecah. Seluruh penghuni kelas menoleh ke arahku. Dan di sana, berdiri di depan kelas dengan tatapan setajam silet, adalah sosok yang paling kuhindari.

Wali kelasku.

“Kamu! Hari pertama sekolah malah telat! Sini kamu!” bentaknya. Suaranya menggelegar sampai ke lorong.

Mati aku. Kenapa harus bapak ini sih?

Beliau adalah guru killer legendaris. Reputasinya mengerikan. Rumornya, pernah ada murid yang dihukum lari keliling lapangan 100 kali sambil telanjang dada cuma karena lupa bawa dasi.

Aku berjalan gontai mendekati meja guru. Samar-samar, aku mendengar suara cekikikan dari bangku belakang. Itu pasti teman-teman mabar-ku semalam.

Awas aja lu pada ya, anjeng…

“Kenapa kok bisa telat?” tanya Pak Guru dingin.

“Hehe, ketiduran, Pak.”

“Alasan kamu ini! Mau jadi apa kamu nanti? Hah? Berangkat sekolah aja kesiangan. Gimana mau jadi Presiden kamu?” ocehnya dengan nada mengintimidasi.

Mulutku gatal. Entah setan apa yang merasukiku, tiba-tiba suara hatiku bocor keluar.

“Bapak aja yang bangun pagi dan berangkat tepat waktu gak jadi Presiden tuh?”

Hening.

Satu detik. Dua detik.

“Pfft… Hehe…”

Suara tawa kecil yang tertahan memecah ketegangan. Suara itu berasal dari seorang siswi yang berdiri di samping meja guru, memegang spidol papan tulis.

Aku menoleh. Sosoknya nyaris luput dari pandanganku karena tertutup aura gelap si Guru Killer.

Gadis itu… cantik. Rambut hitam panjang, wajah imut, dan aura yang seolah bersinar di tengah kelas yang suram ini.

Seluruh sekolah mengenalnya. Dia mantan Ketua OSIS tahun lalu.

Rupanya dia sedang menulis struktur organisasi kelas di papan tulis. Namanya sendiri sudah terpampang paling atas: Ketua Kelas.

Sementara itu, wajah Pak Guru memerah padam. Urat lehernya menonjol, mungkin malu atau marah besar karena ucapanku barusan.

“Sialan lu bocah ya… udah berani jawab omongan guru! Dasar Gen Z!”

Pak Guru memijat pelipisnya, tampak pusing. Tiba-tiba dia menunjukku.

“Ketua Kelas! Udah, jadiin aja bocah belangsak ini Wakil Ketua kamu! Lagipula dari tadi gak ada yang mau, kan? Biar belajar tanggung jawab dia!”

Eh?

“Iya Pak! Setuju! Udah dia aja yang jadi Wakil, biar gak bisa telat lagi! Hahaha!” timpal salah satu teman laknatku dari belakang.

Bajingan. Jangan dikomporin woy!

“Dah, putus! Buat perangkat kelas lainnya kalian berdua yang atur. Bapak mau nyebat dulu, asem mulut saya gara-gara kelakuan bocah ini.”

Tanpa menunggu protesku, Guru Killer itu melenggang keluar kelas dan membanting pintu.

“Pak! Bentar lah, Pak! Saya gak mau!” teriakku sia-sia.

Pintu tertutup rapat. Aku berdiri mematung di depan kelas, diiringi gelak tawa teman-teman sekelas yang puas melihat penderitaanku.

Tiba-tiba, seseorang menepuk pundakku dari belakang.

Aku menoleh kaku. Gadis itu tersenyum manis—sangat manis, tapi entah kenapa membuat bulu kudukku merinding.

“Mohon kerja samanya dalam setahun ini ya, Wakil Ketua Kelas.”