Remedial dan Hadiah Rahasia
Malam itu, kamar kosku yang biasanya menjadi markas besar untuk teriak-teriak nggak jelas saat push rank, berubah menjadi medan perang akademik yang sunyi dan menyedihkan.
Di atas mejaku, ada tiga cangkir kopi dan dua bungkus mi instan yang habis tak bersisa, dan tumpukan kertas berisi coretan rumus Geometri Ruang yang terlihat seperti mantra pemanggil roh jahat.
“Jarak titik A ke bidang BDE… cari luas segitiga… bagi dua… anjir, kok hasilnya malah jadi akar tiga?” gumamku sambil meninju pelan meja.
Kepalaku berdenyut. Mataku terasa seperti diganjal kerikil. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah hidupku, aku begadang bukan karena game, tapi karena rumus matematika.
Setiap kali rasa kantuk menyerang dan tanganku gatal ingin membuka HP untuk sekadar scrolling sosial media, bayangan wajah Ketua muncul di kepalaku.
“Kalau kamu bisa dapat nilai minimal 75, aku kasih hadiah spesial.”
Suaranya yang lembut tadi malam terputar ulang di otakku, diikuti oleh ancaman nerakanya: “Jadi budak piket kelas selama sebulan. Oh, dan setiap pagi kamu harus beliin aku susu kotak…”
Tidak. Jangan sampai! Belum lagi diminta buat jalan nyeker (kiasan) ke koperasi ujung lapangan layaknya half-marathon pagi buta. Dan yang lebih penting lagi… aku harus tahu apa “hadiah rahasia” itu. Apakah Ketua akan mentraktirku makan? Memberikanku contekan eksklusif? Atau… jangan-jangan…?
Fokus, Bro! Jangan nge-fantasize mulu!
Aku menampar pipiku pelan, lalu menunduk kembali menatap catatan tulisan tangan Ketua. Berkat sesi belajar di kafe hari Sabtu lalu, setidaknya aku tidak buta huruf sama sekali soal materi Bab 1 ini. Otakku mungkin loading-nya lama, tapi kalau diulang berkali-kali, lambat laun pasti nyantol juga.
Jam menunjukkan pukul 04:00 pagi ketika aku akhirnya menghafal pola rumus terakhir. Aku langsung menghempaskan tubuhku ke kasur tanpa sempat mengganti baju.
Besok adalah hari penentuan. Hidup atau mati. Hadiah rahasia atau budak susu kotak.
Keesokan harinya, aku melangkah masuk ke kelas XII A dengan kondisi fisik yang bisa dibilang 80% zombie.
Lingkaran hitam di bawah mataku pasti sudah selebar kolam renang. Teman-teman laknatku saja sampai mundur selangkah melihat kedatanganku.
“Woy, Waketu. Lu semalam abis ngapain? Perang dunia?” tanya si Anak Bengkel sambil menyodorkan sebotol air mineral. “Nih, minum. Lu pucat banget.”
“Lu gak akan paham, Bro,” jawabku serak, merebut botol itu dan meneguknya habis. “Gue semalam baru aja berdamai dengan iblis bernama Geometri Ruang.”
Bel masuk berbunyi, menandakan momok itu tiba.
Ibu Guru Matematika masuk dengan aura yang lebih seram dari biasanya. Beliau meletakkan tumpukan kertas di meja, lalu menatap kami satu per satu. Tatapan yang seolah menimbang dosa-dosa kami selama ini.
“Ibu sudah ingatkan kemarin,” ucap Bu Guru dengan suara yang tenang tapi mencekam. “Remedial Bab 1 ini adalah peringatan keras. Ibu mau nilai Ujian Sekolah kalian nanti memuaskan. Kalau hari ini ada yang nilainya masih di bawah KKM dan ketahuan menjawab ngawur… kita akan adakan kelas tambahan setiap sore sampai Ujian Nasional selesai. Paham?!”
Satu kelas menelan ludah serempak. Termasuk anak-anak pintar di barisan depan. Ancaman kelas tambahan sore adalah neraka dunia bagi siapa saja yang punya kehidupan sosial, apalagi anak ekskul.
“Soalnya Ibu dikte. Waktu pengerjaan 45 menit.”
Ibu Guru Matematika mulai mendikte soal satu persatu.
Sembari mendengarkan suara tegas beliau, aku mulai menulis ulang apa yang Ibu Guru Matematika ucapkan dan mulai mengerjakan tiap soalnya.
Satu detik. Dua detik.
Jantungku berdegup kencang. Tapi anehnya… saat mataku memindai soal-soal itu, angka-angka dan simbol itu tidak lagi terlihat seperti bahasa alien.
Oh, ini soal jarak titik ke garis. Pakai teorema phytagoras dua kali. Kayak yang Ketua jelasin di kafe.
Ini soal volume limas. Tinggal masukin rumus dasar.
Tanganku mulai bergerak. Pulpen menari di atas kertas. Aku tidak tahu apakah jawabanku 100% sempurna, tapi setidaknya aku tidak mengarang bebas seperti ulangan harian kemarin. Di tengah kepanikan, aku mengingat kembali bagaimana Ketua membungkuk di sampingku waktu di kafe. Mengingat aroma shampoo yang manis, dan suara lembutnya yang berkata, “Harusnya kamu faktorkan dulu x-nya.”
Aku tersenyum tipis. Tungguin aja, Ketua.
Empat puluh lima menit berlalu dalam kilatan cahaya (dan keringat dingin).
“Waktu habis! Kumpulkan!”
Aku menghela napas panjang, menyerahkan kertasku ke depan dengan tangan sedikit gemetar. Perang telah usai.
Namun, begitu aku kembali ke bangkuku, efek adrenaline rush yang menopangku perlahan menghilang. Gelombang kelelahan yang tertunda sejak semalam akhirnya menghantamku layaknya ditabrak truk tronton.
Tubuhku mendadak terasa sangat berat. Kelopak mataku rasanya seperti ditempeli lem Korea. Pelajaran selanjutnya yang diterangkan oleh guru Sejarah hanya terdengar seperti dengungan lebah di telingaku.
Gue cuma merem lima menit aja, batinku memohon pada diri sendiri. Cuma lima menit buat ngumpulin nyawa.
Aku melipat tangan di atas meja, lalu menjatuhkan kepalaku ke sana. Dinginnya permukaan meja kayu itu terasa sangat menenangkan. Dalam hitungan detik, kesadaranku mulai meredup.
Entah berapa lama aku terlelap.
Sayup-sayup, suara bising kursi yang digeser dan riuh langkah kaki menembus alam bawah sadarku. Sepertinya bel pulang sudah berbunyi. Aku ingin mengangkat kepala, tapi tubuhku benar-benar menolak diajak kompromi. Rasanya seperti ketindihan.
“Oi! Waketu! Bangun woy, kita mau ke basecamp!”
Suara si Anak Bengkel terdengar samar dari arah depan mejaku. Aku tidak merespons. Aku cuma bisa mendengus pelan dalam tidurku.
“Yah, dia tepar beneran. Mukanya item banget Bro, kayak panda belum dikasih bambu,” komentar si Kang Roasting.
“Tinggalin aja lah,” sahut si Anak Bengkel lagi. “Lagian kalau kita bangunin, dia pasti cranky terus ngelantur minta ditraktir makan. Mending kita cabut duluan.”
Aku mendengar suara langkah kaki mereka menjauh.
Pengkhianat, umpatku dalam hati. Temen lagi sekarat malah ditinggal mabur. Ntar gue kutuk akun ML kalian kena ban.
Beberapa menit berlalu. Suara bising dan obrolan di kelas berangsur-angsur menghilang, tanda sebagian besar murid sudah pulang. Kelas XII A kini benar-benar kosong melompong.
Hanya ada suara deru Kipas tua yang berisik, dan bunyi tik… tok… dari jam dinding kelas yang terdengar monoton. Dalam keheningan itu, sisa-sisa kesadaranku akhirnya menyerah tanpa syarat. Rasa lelah menarikku tenggelam makin dalam ke alam mimpi.
Entah berapa lama aku terlelap dalam kegelapan.
Kesadaranku perlahan-lahan mulai terkumpul kembali ketika telingaku menangkap suara derit pintu kelas yang digeser dengan sangat pelan. Disusul oleh suara langkah kaki yang ringan dan teratur memasuki ruangan.
Aku berniat mengangkat kepala dan membuka mata, namun langkah kaki itu mendadak berhenti tepat di samping mejaku. Bersamaan dengan itu, aroma wangi parfum yang sangat familier menyeruak masuk ke indra penciumanku.
Deg.
Ketua Kelas!
Otomatis seluruh otot tubuhku menegang. Jiwa pemalasku langsung berteriak panik. Pikiran instingtifku mengambil keputusan secepat kilat: Tetap pura-pura tidur! Ya kali aku tiba-tiba bangun dengan muka bantal hancur, liur kering (semoga saja tidak ada), dan lingkaran hitam tebal di bawah mata tepat di depan gadis tercantik se-sekolah? Enggak, terima kasih. Harga diriku yang tinggal seupil ini tidak boleh jatuh lagi. Jadi, aku memutuskan untuk mengunci posisiku, mengatur napas agar teratur, dan berpura-pura menjadi seonggok daging yang mati suri.
Terdengar suara gesekan kertas pelan. Ketua sepertinya meletakkan tumpukan lembar remedial yang baru diambilnya dari ruang guru ke atas meja di sebelahku.
Setelah itu, keheningan kembali menguasai kelas. Aku tidak mendengar suara langkah kaki menjauh. Dia masih di sini, berdiri diam di sampingku. Kehadirannya memancarkan aura intens yang membuat bulu kudukku meremang.
Krieeek…
Suara kursi di depanku ditarik dengan sangat hati-hati. Ketua menduduki kursi itu, membuat posisi kami kini saling berhadapan dengan meja belajarku sebagai pembatas. Jarak di antara kami terasa terpotong drastis. Aroma manis stroberinya kini benar-benar mengepungku dari segala arah.
Aku bisa merasakan tatapannya. Sepasang mata tajam dan indah itu pasti sedang memindai wajah kuyu-ku yang terlipat di atas meja.
Lalu, sesuatu yang sama sekali tidak masuk dalam kalkulasi otak bodohku terjadi.
Sebuah telapak tangan yang terasa hangat dan sangat halus perlahan mendarat di atas kepalaku. Jari-jarinya yang lentik menyusuri sela-sela rambutku, mengusapnya dengan gerakan yang begitu lembut dan penuh kehati-hatian—seolah-olah aku adalah barang pecah belah yang gampang retak.
Jantungku langsung melompat ke angka 200 BPM!
Sumpah demi apa pun, menahan tubuh agar tidak bergetar dan menjaga napas tetap tenang di situasi seperti ini adalah ujian terberat sepanjang sejarah hidupku! Rumus Geometri Ruang semalam tidak ada apa-apanya dibanding siksaan manis ini!
“Hei, Wakil Ketua, nilai kamu… beneran pas di 75 loh,” sebuah suara lirih memecah kesunyian.
Itu suara Ketua. Nadanya terdengar sangat pelan, hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri. Tapi di telingaku yang menempel pada meja kayu, suara itu bergaung dengan sangat jelas. Dan entah kenapa… ada nada lega sekaligus bangga yang terselip di sana.
“Dasar Wakil Ketua pemalas…” lanjutnya, diiringi helaan napas kecil. Sentuhan tangannya di rambutku entah kenapa terasa makin lembut. “Ternyata kamu beneran bisa kalau mau berusaha. Kerja bagus.”
Brak!
Aku nyaris saja melompat dari kursi kalau saja tidak ingat kalau aku sedang menyamar jadi mayat. Pujian itu langsung menghantam ulu hatiku tanpa ampun. Gadis perfeksionis yang biasanya bermuka datar dan hobi menyemburkan kalimat sarkas itu… baru saja memujiku secara tulus? Saat aku sedang tidur?
Belum sempat otakku selesai memproses badai emosi ini, sebuah suara melengking dari luar kelas tiba-tiba membuyarkan atmosfer aneh di antara kami.
“Ketuaaa! Jemputan kamu udah nungguin di depan gerbang sekolah, tuh!”
Usapan hangat di kepalaku mendadak terangkat. Aku bersumpah, ada secuil rasa kehilangan yang mendadak menggelitik hatiku saat tangannya menjauh.
Terdengar suara Ketua yang buru-buru merapikan tasnya dan berdiri dari kursi. “Iya, sebentar!” sahutnya agak keras ke arah luar.
Langkah kakinya bergerak cepat menuju pintu. Namun tepat sebelum menggeser pintu kelas, dia sempat berbalik sekilas.
“Selamat istirahat, Wakil Ketua. Hadiah Rahasia nya udah aku kasih yah,” bisiknya pelan.
Sret… Klik.
Suara derap langkahnya di koridor luar perlahan menghilang, menyisakan keheningan total di dalam kelas XII A.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
“HAAAAAHHHH!”
Aku langsung menegakkan tubuhku dramatis, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya seolah baru saja muncul dari permukaan air setelah tenggelam satu jam. Tanganku bergerak cepat mencengkeram dada kiriku yang masih berdegup dengan ritme yang mengerikan. Gila, aku hampir mati lemas karena menahan napas terlalu lama!
Aku menyentuh puncak kepalaku. Sisa-sisa kehangatan dari jemari Ketua seolah-olah masih tertinggal di sana, membakar kulit kepalaku.
Perlahan, aku menunduk, menatap pantulan diriku sendiri pada layar ponselku yang gelap.
Di sana, terlihat dengan sangat jelas wajah seorang cowok dengan lingkaran hitam tebal di matanya, namun seluruh permukaan kulit wajahnya—mulai dari pipi, hidung, hingga ke ujung telinganya—sudah berubah warna menjadi merah padam sempurna. Merah merona, persis seperti nilai-nilai rapor kelas 10-ku dulu.
Aku buru-buru menutup wajahku dengan kedua tangan, lalu membenturkan jidatku pelan ke atas meja kayu yang dingin. Berharap rasa dinginnya bisa menurunkan suhu wajahku yang sudah seperti mesin motor matik yang kepanasan.
“Hadiah rahasia apanya…” gumamku meredam suara di balik telapak tangan. “Gini doang mah… kamu udah bikin aku serangan jantung, Ketua.”
Malam ini, sepertinya aku bakal begadang lagi. Bukan karena push rank, juga bukan karena Matematika. Tapi karena wajah tersenyum Ketua yang mendadak menolak hilang dari ingatan.
Komentar