Prolog
Suara kertas yang bergesekan di atas meja terdengar nyaring di ruang kelas XII A yang sunyi senyap.
Di luar sana, sorak-sorai anak-anak ekskul sepak bola dan derap langkah tim lari terdengar samar-samar. Mereka sibuk memacu fisik di bawah terik matahari, sementara aku di sini, mati gaya terjebak dengan tumpukan dokumen.
Aku menyandarkan punggung ke kursi, memutar-mutar pulpen dengan malas sambil menatap gadis di depanku. Dia masih saja tekun, memilah lembaran kertas seolah itu adalah misi penyelamatan dunia.
“Hei, Ketua. Kamu kenapa serius banget sih sama semua hal? Gak capek apa?” celetukku memecah hening.
Dia tidak menoleh, matanya masih fokus pada lembaran di tangannya. “Hmm…. Entahlah. Aku gak tahu sejak kapan, tapi dari dulu aku emang selalu serius sama apa yang aku kerjain. Mungkin faktor keluarga juga?” jawabnya ragu.
“Mungkin? Hadeh, abu-abu banget jawabannya.”
“Haha …. Ya, begitulah.”
Aku menghela napas panjang, menatap langit-langit kelas yang mulai kusam.
“Emangnya cita-cita Ketua mau jadi apa di masa depan? Orang serius kayak kamu pasti udah nyiapin semuanya, kan? Apalagi abis lulus nanti.”
Gerakan tangannya berhenti. Hening sejenak.
“Masa depan, ya….” Dia menggumam pelan. “Gak tahu, aku juga belum kepikiran spesifiknya. Yang jelas habis lulus SMA aku mau masuk universitas unggulan.”
“Yah, kalau Ketua sih gampang masalah gituan. Tiap UAS udah jadi langganan ranking satu.”
“Makasih,” jawabnya singkat. Lalu akhirnya dia mengangkat wajah dan menatapku. “Kalau kamu?”
“Hah?”
“Rencana masa depanmu. Wakil Ketua mau jadi apa?”
Aku terkekeh hambar. “Enggak tahu juga mau ngapain. Jujur aku gak berharap jadi apa-apa. Apalagi di negara yang kondisinya udah kayak gini.”
“Boo, ngomongin politik lagi.”
“Ya mau gimana lagi? Pemerintahannya gak jelas, pejabatnya hobi korupsi, rakyatnya? Sama aja. Bikin males usaha.”
“…”
Ketua menghela napas panjang, menumpuk beberapa kertas yang baru saja dia rapikan.
“Bener juga sih apa yang kamu bilang. Kadang capek dengerin berita itu semua. Tapi berhenti berharap juga bukan pilihan, kan?”
Dia tersenyum tipis, lalu menoleh ke jendela. Matahari sore yang mulai turun membiaskan cahaya jingga, menerpa separuh wajahnya.
“Negara ini mungkin emang udah berantakan. Orang-orang dan pejabatnya juga banyak yang bikin kesel. Tapi ya… masa depanku bukan sepenuhnya ditentuin sama mereka, kan?”
Dia melirikku sekilas.
Entah kenapa, wajah Ketua yang diterangi cahaya sore itu bikin jantungku berdegup lebih cepat dari seharusnya.
Debu kapur yang beterbangan di sorot cahaya seolah berhenti bergerak. Di detik itu, otakku korslet dan mulutku bergerak sendiri.
“Aku mau kuliah bareng sama Ketua.”
Hening.
Mampus. Aku barusan ngomong apa?
Ketua mengangkat alis. Dia tampak kaget, tapi sedetik kemudian terlihat geli.
“Wow, berani juga pernyataannya. Emang dengan nilaimu yang sekarang bisa ngelakuin hal itu?”
Kenyataan langsung menamparku balik. “E-ee… jujur gak bisa sih.”
Aku menggaruk tengkuk yang tak gatal. “Tapi kalau aku belajar serius kayak Ketua, mungkin bisa, kan?”
Dia hanya diam, menatapku lekat.
“Mmm… bisa, kan?” tanyaku lagi, kali ini lebih ragu.
“Siapa tahu,” lanjutku cepat untuk menutupi rasa malu, “suatu hari aku yang bakal wujudin 19 juta lapangan pekerjaan yang cuma omon-omon itu. Haha.”
Ketua tertawa lepas mendengar candaan garingku.
“Bisa,” katanya sambil menggeleng-geleng. “Mungkin bisa. Nggak—pasti bisa.”
Senyumnya yang tadi cuma menggelitik, kini terlihat manis banget.
Lalu Ketua merapikan tumpukan dokumen yang sudah selesai ia kerjakan dan menatapku dengan sorot mata jahil.
“Kalau gitu, mungkin kamu bisa mulai belajar serius buat ulangan harian Matematika besok, Wakil Ketua.”
“Eh?”
Aku tersentak kaget. Mataku mengerjap bingung.
Emangnya besok ada ulangan, ya?